Laporan Amar Bank & DiscoveryShift: Membuka Kemampuan Perbankan untuk Pertumbuhan Platform Digital

2–3 minutes
Unlock Banking Capability For The Growth of Digital Platforms

Amar Bank dan DiscoveryShift baru saja merilis laporan terbaru bertajuk “Unlock Banking Capability For The Growth of Digital Platforms”. Laporan ini mengulas tentang bagaimana perbankan berperan dalam ekonomi digital yang terus berkembang ini sebagai enabler.

Ekonomi digital yang menantang

Bagian pertama yang dibahas dalam laporan ini adalah terkait laju pertumbuhan ekonomi. Kendati kondisi perekonomian makro masih sangat dinamis, namun demikian menurut data yang dikutip dalam laporan ada sejumlah indikator positif yang tercatat, di antaranya

  • Tren penurunan inflasi di Indonesia yang cenderung mengarah pada sinyal positif. Pada Oktober 2024, inflation rate di Indonesia berada di kisaran 1,71% — lebih kecil dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yakni 2,56%.
  • Sejumlah sektor digital unggulan — e-commerce, transport & food, online travel, dan online media— masih mendapati peningkatan capaian. Empat sektor ini diproyeksi berhasil membukukan GMV ekonomi digital lokal mencapai $90 miliar di tahun 2024. Nilai tersebut diperkirakan masih akan terus bertumbuh sampai $200-300 miliar di tahun 2030 mendatang.

Namun demikian untuk iklim investasi di sektor digital tampaknya masih belum berangsur membaik. Investor masih di mode “sangat selektif” dalam mengucurkan dananya, memastikan bisnis yang diinvestasi memiliki potensi pertumbuhan besar.

Gebrakan pemain bank digital

Seiring dorongan regulator (OJK) kepada pelaku industri perbankan untuk terus mendorong inovasi teknologi —roadmap perbankan 2025— pemain industri terus berupaya menghadirkan lebih banyak terobosan. Salah satunya, kini bank mulai ambil peran menjadi enabler untuk membantu para pebisnis digital menghadirkan kapabilitas finansial di platformnya.

Dalam laporan tersebut turut dikemukakan data yang mengungkapkan bahwa sebagian besar (69%) pengembang platform digital saat ini memilih menggandeng pihak ketiga untuk menghadirkan layanan finansial di aplikasinya. Sementara hanya 28% yang mengatakan memilih mengembangkannya secara in-house. Sebagai bidang industri yang diregulasi ketat, untuk menyuguhkan fitur keuangan sebuah institusi harus mengajukan izin dan memastikan kepatuhan tinggi.

Peran embedded banking

Embedded banking untuk turut mengakomodasi kebutuhan pelaku industri digital dalam menghadirkan kapabilitas teknologi finansial yang lebih beragam kepada para pengguna. Embedded banking secara langsung menghubungkan layanan finansial perbankan (core banking system), memungkinkan aplikasi digital memiliki fitur seperti pembayaran, simpanan, pinjaman, dan lain-lain.

Dibandingkan dengan metode lain —misalnya embedded finance atau banking as a services— embedded banking secara teknis memiliki pendekatan yang berbeda. Salah satu proposisi nilai penting yang dimiliki, metode ini menghubungkan pengembang layanan secara langsung kepada perbankan (tanpa perlu pihak ketiga seperti penyedia API).

Di Indonesia, Amar Bank menjadi pionir untuk layanan embedded banking. Pendekatan mereka memungkinkan pengembang aplikasi digital untuk bisa melakukan integrasi secara lebih cepat —sebagian besar 2-4 minggu untuk proses setup dan implementasi. Selain itu, ada sejumlah value yang turut ditawarkan Amar melalui platform ini kepada bisnis, antara lain:

  • Menghadirkan revenue stream baru. Misalnya didapat melalui fee dari setiap transaksi pembayaran dan pinjaman yang terjadi di aplikasi.
  • Mengurangi investasi dan biaya atas infrastruktur teknologi — dengan menerapkan embedded banking, pengembang tidak perlu lagi harus memikirkan infrastruktur seperti server dan kepatuhan aplikasi, karena hal tersebut akan disediakan oleh bank mitra.

Untuk temuan dan insight selengkapnya, unduh laporan Unlock Banking Capability For The Growth of Digital Platform: klik di sini.

Leave a Reply

Trending