Mengungkap Potensi Startup Berdampak dan Pendekatan Bali Investment Club

4–7 minutes
Nicolo’ Castiglione selaku Managing Partner & Investment Committee Bali Investment Club / BIC

Meskipun belum begitu signifikan, investasi ke startup berdampak mulai banyak terjadi di Indonesia beberapa waktu terakhir. Terlebih dengan hadirnya inovasi founder lokal untuk layanan di bidang energi hijau, penanganan perubahan iklim, dan ekonomi sirkular. Bali Investment Club (BIC) menjadi salah satu angel network di Indonesia yang banyak fokus berinvestasi ke startup berdampak.

Terbaru, BIC baru berinvestasi ke startup food waste management Magalarva dan platform marketplace masakan rumahan bukaPO.

DailySocial berkesempatan untuk mewawancara Nicolo’ Castiglione selaku Managing Partner & Investment Committee Bali Investment Club untuk mendalami tentang pendekatan investasi mereka sekaligus tren startup berdampak di Indonesia.

Berawal saat ekosistem startup berdampak masih sepi

Kegiatan BIC untuk memberikan panggung kepada startup berdampak di Indonesia / BIC

Mengawali wawancara, Nicolo bercerita tentang berdirinya BIC di tahun 2020 saat masa lockdown. Awalnya ini dijadikan proyek untuk menghabiskan waktu secara produktif di tengah pembatasan sosial di pulau Bali bersama beberapa rekan founder.

“Awalnya, fokus kami adalah berinvestasi pada startup yang berbasis di Bali. Namun, setelah meluncurkan situs web dan mulai mencari perusahaan yang dapat diinvestasikan, kami segera menyadari bahwa Bali tidak memiliki cukup banyak startup berdampak yang berfokus pada Indonesia,” ujar Nicolo.

Saat BIC berdiri, ekosistem startup berdampak dinilai belum berkembang — bahkan masih sangat minim. Sebagai upaya untuk mulai memperkenalkan sekaligus menghidupkan startup di bidang ini, BIC menyelenggarakan acara pitching dua bulanan bernama “Angels & Founders” di Jakarta yang sepenuhnya berfokus untuk startup berdampak.

Selama empat tahun berlalu, BIC memberi panggung ke 110 startup untuk pitching ke 91 investor dengan rata-rata 300 peserta di tiap acara (diklaim 85% di antaranya adalah founder). Lantas ini dijadikan medium untuk memperkenalkan lebih dalam bagaimana startup berdampak. Adapun 8 peserta pitching di antaranya kini telah menjadi portofolio BIC.

“Saya beruntung bertemu dengan mentor-mentor luar biasa (yang kini menjadi mitra BIC) dengan pengetahuan mendalam tentang Indonesia dan investasi berdampak, yang membantu mengubah model BIC dan memperkenalkan kami pada jaringan yang lebih luas,” imbuhnya.

Pendekatan BIC dengan mendorong kolaborasi lintas sektor, untuk memperkuat ekosistem. Kini BIC telah memiliki 35 angel investor yang siap untuk mendukung startup berdampak di Indonesia seperti di bidang pengolahan limbah, teknologi hijau, hingga ekonomi sirkular.

“Hari ini, saya percaya bahwa BIC telah memainkan peran signifikan dalam mendukung dan membangun ekosistem startup berdampak di Indonesia. Selama bertahun-tahun, kami telah menjadi lebih dari sekadar investor. Melalui pendekatan venture-building kami, kami terlibat aktif dengan perusahaan, membantu mereka tumbuh secara efektif,” jelas Nicolo.

Segera luncurkan dana kelolaan modal ventura

Dengan meningkatnya perhatian untuk sektor keberlanjutan di Indonesia, BIC berkomitmen untuk meningkatkan skala bisnis dan lebih agresif dalam berinvestasi. Tahun 2025, BIC akan fokus mendukung startup berdampak yang menciptakan perubahan sosial dan lingkungan. Selain itu, BIC tengah menyiapkan peluncuran dana modal ventura bereka Archipelago VC (AVC).

“Setelah didirikan (Q2 2025), dana ini akan memberikan akses ke sumber modal yang lebih besar, memungkinkan kami menciptakan dampak yang lebih besar. Jaringan angel investor BIC akan berinvestasi bersama AVC, menciptakan kolaborasi yang kuat antara komunitas kami dan dana tersebut,” jelas Nicolo.

Upaya untuk meningkatkan investasi ini juga tidak terlepas dari pandangan BIC tentang makin matangnya ekosistem startup di Indonesia. Meskipun mengalami badai yang luar biasa di tengah tech-winter, Nicolo menilai ada perkembangan pesat di ekosistem selama tahun 2024 dibanding sebelumnya. Terlebih kondisi tersebut justru membuat investasi berdampak mendapatkan momentum pertumbuhan. Kendati demikian sektor berdampak memang dihadapkan pada tantangan utama, terutama terkait pendanaan awal dan kurangnya kesuksesan exit.

“Kasus penipuan dan kegagalan besar beberapa startup high-profile baru-baru ini tentu saja merusak kepercayaan di kalangan investor asing. Namun sisi positifnya, kami melihat semakin banyak startup yang beralih ke model pertumbuhan berkelanjutan, alih-alih mengadopsi pendekatan ‘bakar uang’ ala unicorn, yang merupakan perubahan pola pikir yang menjanjikan baik bagi founder maupun investor. Selama kita menghindari penipuan besar lainnya dan melihat lebih banyak exit yang sukses, masa depan ekosistem ini terlihat cerah,” kata Nicolo.

Nicolo turut mengidentifikasi, di beberapa tahun mendatang beberapa sektor berdampak akan berkembang pesat. Ini termasuk pengembang produk teknologi hijau, pengelolaan limbah, agritech, dan edutech semuanya memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan. Pengelolaan limbah, khususnya, tetap menjadi tantangan besar di Indonesia, menjadikannya sektor ini ideal bagi startup yang menawarkan solusi yang dapat diskalakan.

“Faktor kunci untuk sukses bukan menemukan ‘roda’ baru, tapi meningkatkan, memanfaatkan, dan memberdayakan struktur sektor informal yang sudah ada. Ekonomi Indonesia masih sebagian besar informal (dengan jutaan pelaku usaha mikro), dan startup yang dapat menambah nilai pada sektor ini memiliki potensi model bisnis yang sangat scalable,” ungkap Nicolo.

Teknologi hijau juga diperkirakan akan menjadi fokus utama saat Indonesia berjibaku pada solusi pengelolaan limbah dan pengurangan emisi CO2. Agritech akan terus memainkan peran penting dalam meningkatkan ketahanan pangan dan efisiensi pertanian, terutama mengingat ketergantungan Indonesia pada sektor pertanian. Edutech akan mengalami ekspansi besar, karena pendidikan digital menjadi alat utama untuk mengatasi kesenjangan keterampilan dan memberikan pendidikan yang dapat diakses oleh generasi muda Indonesia.

Pendekatan investasi BIC

BIC turut berinvestasi ke Magalarva, startup yang fokus menyelesaikan masalah food waste / Magalarva

BIC melandaskan faktor ‘dampak’ sebagai strategi investasinya. Bahkan mereka mengembangkan KPI spesifik untuk tiga pilar utamanya, meliputi: pengurangan limbah (kg), mitigasi CO2 (kg), dan peningkatan ekonomi untuk dasar piramida (BoP) dalam nilai USD.

“Kami mengevaluasi dampak saat ini dan yang diproyeksikan, memastikan bahwa hal tersebut selaras dengan target kami. Setelah dampaknya terkonfirmasi, kami mengevaluasi potensi pengembaliannya, karena kami mendefinisikan diri kami sebagai investor dengan dampak tinggi dan pengembalian potensial tinggi, tanpa mengorbankan salah satu aspek tersebut. Kami hanya berinvestasi pada bisnis yang telah menunjukkan traction, dengan penjualan minimal selama enam bulan,” jelas Nicolo.

Biasanya, faktor dampak dan skalabilitas terkonfirmasi, BIC mempertimbangkan bagaimana startup dapat terhubung dengan ekosistem yang lebih luas. BIC berinvestasi secara strategis di berbagai segmen rantai pasok limbah, menciptakan sinergi di mana setiap perusahaan bertindak sebagai klien atau pemasok untuk perusahaan lainnya. Model ini dinilai telah terbukti efektif berjalan di 8 perusahaan dalam portofolio mereka saat ini.

“Setelah memastikan dampak, skalabilitas, dan kecocokan ekosistem, kami sangat fokus pada tim, karena mereka memiliki pengaruh besar pada keputusan investasi kami. Setelah investasi dilakukan, kami terlibat secara mendalam dengan setiap perusahaan melalui pendekatan venture-building dan kemitraan co-founder untuk membantu mengarahkan pertumbuhan mereka,” imbuhnya.

Nicolo percaya bahwa dampak sosial dan profitabilitas harus berjalan beriringan. Ia mengatakan, “Kami percaya diri dapat mencapai investasi dengan dampak tinggi dan pengembalian tinggi, dengan target tingkat pengembalian internal bruto (IRR) setidaknya 24%, jauh melampaui pengembalian khas dari modal ventura yang berfokus pada dampak.”

Leave a Reply

Trending

Discover more from DailySocial.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading