Indonesia tengah mengalami transformasi perbankan digital yang pesat, didorong oleh meningkatnya layanan keuangan berbasis mobile, embedded banking, serta inovasi teknologi yang terus berkembang seiring dengan dukungan regulasi. Indra Salim, Director of Sales and Partnerships audax, berbagi pandangannya mengenai bagaimana bank tradisional beradaptasi dengan digitalisasi dalam membentuk lanskap keuangan di Indonesia.
Perbankan Digital Terus Berkembang
Perkembangan pesat perbankan digital di Indonesia tercermin dalam nilai transaksi digital yang mencapai Rp5.570,49 triliun pada Mei 2024, meningkat 10,82% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pemain digital-native terus menetapkan standar baru, bank tradisional tetap memiliki keunggulan kompetitif, seperti kepercayaan pelanggan, hubungan jangka panjang, serta keahlian dalam manajemen risiko dan kepatuhan regulasi.
Menurut Indra, modernisasi adalah kunci bagi bank konvensional agar tetap relevan di era digital. Peralihan ke solusi berbasis teknologi, seperti cloud computing dan artificial intelligence (AI), memungkinkan bank untuk berinovasi tanpa mengorbankan aspek keamanan dan kepatuhan.
“Batas antara perbankan tradisional dan digital semakin memudar. Keberhasilan bank kini bergantung pada seberapa baik mereka mengintegrasikan teknologi dengan keunggulan yang telah dimiliki untuk menghadirkan layanan keuangan yang aman dan inklusif,” jelas Indra.
Potensi dan Tantangan Utama
Meskipun Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, perbankan syariah baru menyumbang 7,5% dari total aset perbankan nasional pada 2023. Rendahnya tingkat literasi keuangan syariah, yang hanya mencapai 13%, menjadi tantangan utama dalam meningkatkan adopsi layanan ini.
Indra menilai teknologi sebagai solusi untuk memperluas inklusi keuangan syariah. “Solusi digital yang sesuai prinsip syariah dapat meningkatkan kesadaran dan aksesibilitas, membawa layanan keuangan ini lebih dekat ke masyarakat,” ujarnya. Menyadari potensi ini, audax berupaya menyediakan infrastruktur digital yang selaras dengan prinsip syariah, tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna.
Namun, secara umum, perbankan di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar, seperti sistem legacy yang belum sepenuhnya terintegrasi, kompleksitas regulasi, serta kesulitan menjangkau populasi unbanked yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Indra menyoroti bagaimana teknologi dapat menjadi solusi bagi tantangan tersebut melalui:
- Infrastruktur Skalabel: Teknologi seperti eKYC, otentikasi biometrik, dan penilaian kredit berbasis AI memungkinkan onboarding pelanggan secara jarak jauh.
- Solusi Perbankan Tertanam (Embedded Finance): Integrasi layanan perbankan ke dalam ekosistem digital yang sudah populer dapat memperluas akses keuangan.
- Kepatuhan Regulasi: audax membantu bank untuk tetap patuh terhadap peraturan perbankan Indonesia yang terus berkembang, sembari tetap mendorong inovasi.
Salah satu studi kasus yang menarik adalah BukaTabungan, hasil kemitraan antara Standard Chartered Indonesia dan Bukalapak. Program ini berhasil menjangkau 98% nasabah baru dan melipatgandakan basis pelanggan Standard Chartered Indonesia hanya dalam enam bulan. Namun, karena perubahan strategi perusahaan, fitur ini akhirnya dihentikan di aplikasi Bukalapak pada akhir 2024.
Masa Depan Perbankan Digital
Pasar Banking-as-a-Service (BaaS) di Asia-Pasifik diproyeksikan mencapai US$53,98 miliar pada 2030, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap solusi keuangan embedded. Berbeda dengan model yang berkembang di Barat, pendekatan Indonesia memungkinkan bank untuk mengintegrasikan layanan langsung ke dalam ekosistem digital, yang tidak hanya meningkatkan kepatuhan regulasi tetapi juga memperkuat retensi pelanggan.
Ke depan, Indra mengidentifikasi tiga tren utama yang akan membentuk lanskap perbankan digital di Indonesia:
- Integrasi Ekosistem – Bank akan semakin mengintegrasikan layanan keuangan ke dalam pengalaman digital sehari-hari, misalnya melalui aplikasi e-commerce atau platform media sosial.
- Layanan Keuangan yang Dipersonalisasi – AI dan analitik data akan memungkinkan personalisasi produk keuangan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
- Peningkatan Inklusi Keuangan – Keuangan syariah dan solusi digital-first akan memainkan peran lebih besar dalam menjangkau segmen yang sebelumnya tidak terlayani oleh sistem perbankan konvensional.
“Seiring berkembangnya industri, audax berkomitmen untuk membantu bank meningkatkan pengalaman pelanggan serta mendorong inklusi keuangan. Kami percaya bahwa transformasi digital akan terus memperkuat sektor perbankan di Indonesia,” tutup Indra.






Leave a Reply