Keputusan Bukalapak untuk menghentikan layanan marketplace produk fisik menjadi babak baru yang berani dan penuh risiko bagi perusahaan teknologi yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 2021 ini. Di tengah persaingan ketat industri e-commerce, langkah ini menimbulkan pertanyaan besar: mampukah Bukalapak bertahan tanpa andalan utamanya, marketplace?
Marketplace masih jadi penopang finansial
Dalam laporan keuangan tahun penuh 2024, unit bisnis marketplace mencatat pendapatan sebesar Rp2,51 triliun, menyumbang lebih dari 56% dari total pendapatan perusahaan yang mencapai Rp4,46 triliun. Sementara itu, bisnis Online-to-Offline (O2O) atau Mitra Bukalapak, yang selama ini menjadi fondasi pendekatan B2B2C perusahaan, mencatat penurunan pendapatan tahunan sebesar 5% menjadi Rp 2,08 triliun.

Meskipun unit O2O mencetak peningkatan margin kontribusi hingga 420% YoY, profitabilitas unit ini masih belum cukup untuk menutup kekosongan yang ditinggalkan oleh marketplace. Bahkan, margin kontribusi dari marketplace sendiri menurun tajam 40% YoY, mengindikasikan tekanan biaya yang besar meski pendapatan tetap tumbuh.
Langkah untuk fokus ke produk virtual
Sejak awal 2025, Bukalapak resmi menghentikan penjualan barang fisik di marketplace-nya, dan memilih fokus pada produk virtual seperti pulsa, token listrik, pembayaran tagihan, serta layanan finansial seperti voucher emas dan reksa dana. Langkah ini diambil untuk meredam tekanan biaya logistik dan operasional yang tinggi, serta menggenjot margin keuntungan melalui layanan digital yang skalabel.
Menurut manajemen, layanan ini memiliki potensi margin lebih tinggi dan lebih mudah diintegrasikan dalam ekosistem digital yang sudah dimiliki Bukalapak, seperti platform investasi BMoney.
Namun, pertanyaannya tetap: apakah Bukalapak bisa survive dan berkembang tanpa marketplace barang fisik?
Transisi ini menghadirkan sejumlah tantangan krusial:
- Kehilangan basis pengguna yang terbiasa bertransaksi produk fisik di platform.
- Penurunan volume transaksi, mengingat barang virtual memiliki nilai transaksi rata-rata yang lebih rendah dibanding produk fisik.
- Ketatnya persaingan di segmen layanan digital, terutama dari pemain fintech dan superapp besar seperti GoTo dan Shopee.
Performa Finansial Campuran
Meski mencatat kerugian bersih sebesar Rp1,55 triliun di 2024, Bukalapak menunjukkan tanda-tanda peningkatan kualitas bisnis dengan core earnings yang melonjak hampir 10 kali lipat menjadi Rp443 miliar. Adjusted EBITDA juga membaik sebesar 28%, menandakan adanya perbaikan efisiensi dan pengurangan beban dari investasi-investasi non-inti.
Perusahaan juga masih memiliki kas dan investasi likuid sebesar Rp19,1 triliun, modal penting untuk melakukan pivot dan eksplorasi model bisnis baru.

Perlu lebih dari sekadar pivot
Transformasi Bukalapak menjadi penyedia layanan digital virtual adalah taruhan besar yang bisa mengubah nasib perusahaan secara drastis—ke arah positif atau sebaliknya. Meskipun secara struktur keuangan perusahaan masih cukup kuat untuk menopang fase transisi ini, absennya mesin pendapatan utama akan menjadi ujian sesungguhnya.
Tanpa marketplace, Bukalapak perlu membuktikan bahwa mereka tidak hanya bisa bertahan, tapi juga tumbuh di ceruk pasar layanan digital yang lebih menguntungkan namun juga jauh lebih kompetitif.
Pertanyaannya kini bukan hanya tentang “apa setelah marketplace?”, tapi juga “seberapa cepat dan efektif Bukalapak bisa membangun ulang sumber pertumbuhan barunya?”
–
Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan teknologi AI dan supervisi penulis konten






Leave a Reply