Penyedia layanan infrastruktur web dan AI, Hostinger, resmi meluncurkan platform e-commerce barunya. Dinamakan Hostinger Ecommerce, kini pengguna bisa memiliki kanal berjualan online hanya dengan mengunggah foto produk. Dalam hitungan menit, kecerdasan buatan (AI) mengubah foto tersebut menjadi halaman produk lengkap dengan tautan pembelian yang siap dibagikan, tanpa perlu membangun website terlebih dulu.
Dalam rilisnya disebutkan, peluncuran ini merespons perubahan perilaku belanja yang kian menyebar ke banyak kanal, termasuk mengakomodasi brand yang mulai banyak mengadopsi sistem Direct to Consumer (D2C).
Data Adobe mencatat lalu lintas kunjungan ke situs ritel yang bersumber dari AI generatif tumbuh 4.700 persen dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, riset Salesforce menyebut 76 persen konsumen Gen Z menemukan produk melalui media sosial. Sementara bagi penjual kecil, kecepatan beradaptasi dengan kanal baru sering kali menjadi tantangan terbesar.
Berbeda dari layanan pembuat toko online pada umumnya, Hostinger Ecommerce dirancang sebagai pusat pengelolaan bisnis. Katalog produk, stok, pesanan, pembayaran, pengiriman, dan data pelanggan dikelola dari satu dasbor, lalu dihubungkan ke berbagai kanal penjualan, mulai dari situs web, toko di media sosial seperti TikTok dan Instagram, aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, hingga nantinya agen AI.
Perusahaan mengibaratkan pendekatan ini seperti dapur restoran. Seluruh pekerjaan di balik setiap transaksi ditangani satu dapur yang sama, sedangkan kanal penjualan berfungsi sebagai ruang makan tempat pelanggan datang dan memesan. Menambah kanal baru berarti membuka pintu tambahan, bukan membangun ulang dapurnya.
Dari foto produk menjadi tautan belanja
Fitur andalan pada peluncuran ini adalah Quick Links. Penjual cukup mengunggah foto produk, lalu AI menyusun halaman produk berikut deskripsi, detail utama, hingga usulan harga jual. Setelah metode pembayaran terhubung, tautan produk dapat dibagikan ke mana pun pelanggan berada. Setiap tautan sudah mencakup keranjang belanja, proses pembayaran, pengaturan pengiriman, dan pengelolaan pesanan.
Jenis dagangan yang didukung juga cukup luas, mencakup produk fisik dan digital, jasa dengan pemesanan jadwal, layanan donasi, hingga paket langganan.
Pengalaman pengguna dipandu asisten AI bernama Kodee. Pada tahap awal, Kodee membantu penyiapan toko melalui pertanyaan praktis, mulai dari jenis barang yang dijual sampai kanal penjualan yang ingin dipakai. Setelah toko berjalan, perannya bergeser menjadi operator harian: mengelola produk, menjalankan promo kilat, hingga memperbaiki optimasi mesin pencari (SEO), semuanya lewat percakapan alih-alih menu pengaturan.
Menyasar penjual mikro tanpa biaya komisi
Platform ini telah aktif di 13 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, India, Brasil, dan Jepang. Sekitar 80 persen toko yang berjalan di dalamnya menjual kurang dari 100 produk, menandakan penjual mikro dan usaha kecil menjadi pengguna utamanya. Adapun 30 persen produk baru di platform tersebut dibuat dengan bantuan AI.
Dari sisi biaya, Hostinger tidak memungut komisi atas setiap penjualan. Biaya yang timbul hanya berasal dari gerbang pembayaran yang digunakan. Model ini membedakannya dari sejumlah pesaing yang mengutip komisi 0,5 persen hingga 3 persen per transaksi.
Perusahaan menegaskan platform ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan marketplace seperti Tokopedia atau Shopee yang menawarkan lalu lintas pengunjung besar. Sasarannya adalah penjual yang ingin membangun kanal sendiri di luar marketplace, memusatkan stok dan pesanan lintas kanal, sekaligus memegang penuh hubungan dengan pelanggan. Dibandingkan platform toko online global, pendekatannya justru dibalik: penjualan bisa dimulai dari tautan produk sebelum situs web dibangun, dengan biaya berlangganan lebih rendah dan tanpa menuntut keahlian teknis.
Dukungan pembayaran lokal di pasar Indonesia
Indonesia termasuk dalam lima pasar terbesar Hostinger secara global, bersama India, Brasil, Amerika Serikat, dan Prancis. Untuk transaksi di dalam negeri, platform ini mendukung metode pembayaran lokal melalui mitra gerbang pembayarannya, mencakup dompet digital seperti OVO, DANA, ShopeePay, dan LinkAja, pembayaran QRIS, transfer bank, hingga tunai. Perusahaan memperkirakan metode pembayaran alternatif semacam ini mewakili sekitar 70 persen transaksi daring di Indonesia.
Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah untuk pasar lokal. Saat ini setiap toko hanya dapat beroperasi dengan satu mata uang, sementara bahasa toko mengikuti pengaturan akun penggunanya. Integrasi langsung dengan penyedia logistik lokal juga belum memiliki jadwal pasti. Hostinger menyatakan tengah mengevaluasi kebutuhan tersebut, termasuk kebiasaan bayar di tempat (COD) yang masih dominan, dan menyebut Indonesia sebagai pasar penting dalam rencana pengembangan berikutnya.
Bersiap menuju era belanja lewat agen AI
Dalam peta jalannya, Hostinger berencana membuka antarmuka pemrograman aplikasi (API) platform ini untuk publik serta mengembangkan kemampuan perdagangan berbasis agen AI pada 2026 hingga 2027. Langkah itu sejalan dengan tren industri: sejumlah perusahaan besar seperti OpenAI, Google, Visa, dan Mastercard tengah membangun cara bagi agen AI untuk merekomendasikan, membandingkan, sampai membeli produk atas nama konsumen. Arsitektur platform pun dirancang agar data penjual tertata dan siap dibaca oleh perangkat belanja berbasis AI pada masa depan.
“Perdagangan bergerak dari toko sederhana menuju ekosistem. Orang menemukan produk di banyak kanal, dan agen AI semakin membantu mereka memilih, membandingkan, dan membeli,” kata Auksė Žirgulė, Head of Hostinger Website Builder and Ecommerce. “Bagi penjual kecil, peluangnya sangat besar, tetapi hanya jika bisnisnya bisa bergerak secepat pelanggan. Mereka tidak seharusnya menebak-nebak kanal mana yang akan penting berikutnya.”






Leave a Reply