Pendapatan Blibli Melesat 55%, Rugi Bersih Menyempit, Margin Jadi Taruhan

3–5 minutes
Laporan keuangan H1 2026 Blibli tunjukkan tren positif pertumbuhan / Blibli

PT Global Digital Niaga Tbk. (IDX: BELI), operator ekosistem omnichannel Blibli Tiket, mencatatkan salah satu laju pertumbuhan tercepat di antara emiten teknologi Indonesia pada paruh pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan neto konsolidasian melesat 55% secara tahunan (YoY) dari Rp9,60 triliun menjadi Rp14,83 triliun, dengan kuartal II 2026 menyumbang Rp6,99 triliun atau tumbuh 43% YoY.

Pertumbuhan itu dibarengi perbaikan kerugian yang signifikan. Rugi bersih semester I 2026 menyempit 43% menjadi Rp719,1 miliar dari Rp1,27 triliun, menekan rugi bersih per saham menjadi Rp5 dari Rp9. EBITDA konsolidasian juga membaik 65% menjadi negatif Rp349 miliar, dengan rasio EBITDA terhadap total nilai transaksi (TPV) naik 170 basis poin menjadi minus 0,8%. Titik impas operasional mulai terlihat di ujung jalan, meski belum tercapai.

Disiplin biaya menopang perbaikan bottom line

Perbaikan kerugian bukan berasal dari margin, melainkan dari biaya. Laporan keuangan menunjukkan total beban operasional justru turun 2% menjadi Rp2,85 triliun di tengah pendapatan yang melonjak 55%. Beban umum dan administrasi dipangkas 6,6% menjadi Rp1,79 triliun, sementara beban penjualan hanya naik 6,6% menjadi Rp1,06 triliun. Rasio beban operasional terhadap TPV pun turun dari 7,2% menjadi 6,3%, dan rugi usaha menyempit 57% menjadi Rp493 miliar.

“Penekanan berkelanjutan pada disiplin biaya dan efisiensi operasional telah memungkinkan kami untuk semakin memperkuat profitabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar CFO Blibli Ronald Winardi dalam rilis kinerja, Kamis (30/7/2026).

Senada, CEO dan Co-Founder Kusumo Martanto menekankan fokus perseroan pada pertumbuhan berkualitas dan investasi yang disiplin, “alih-alih mengejar pertumbuhan dengan segala cara”.

Mesin pertumbuhan bergeser ke Institusi, margin jadi taruhannya

Sumber lonjakan pendapatan patut dicermati. Segmen Institusi kini menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan neto Rp6,71 triliun pada semester I 2026, melonjak 98% YoY dan setara 45% dari total pendapatan perseroan. Kualitas kliennya membaik: belanja per klien institusi naik 66% menjadi Rp106 juta dan tingkat monetisasi meningkat dari 56% menjadi 69%, meski jumlah kliennya turun tipis 3% menjadi sekitar 91.500.

Persoalannya ada di margin. Laba bruto sebelum diskon (GPBD) segmen Institusi hanya tumbuh 52% menjadi Rp658 miliar, dan pada kuartal II 2026 bahkan stagnan di Rp228 miliar meski TPV segmen melonjak 49%. Secara implisit, rasio GPBD terhadap TPV segmen ini terkompresi ke kisaran 4,8% pada kuartal II dari 7,1% setahun sebelumnya. Bauran inilah yang menyeret marjin bruto konsolidasian turun ke 15,7% dari 18,5%, dan membuat take rate konsolidasian kuartal II tergelincir tipis ke 8,1% dari 8,3%, meski secara semester masih naik ke 9,0% dari 8,6%.

Perlu dicatat pula bahwa lonjakan pendapatan 55% sebagian merupakan efek bauran akuntansi: penjualan 1P, Institusi, dan Toko Fisik dibukukan penuh sebagai pendapatan, sementara Ritel 3P hanya mencatat komisi. Ukuran yang lebih setara justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih moderat, yakni TPV naik 12% menjadi Rp45,19 triliun dan GPBD tumbuh 17% menjadi Rp4,06 triliun.

Ritel 1P jadi bintang, 3P tertahan

Kualitas pertumbuhan terbaik justru datang dari Ritel 1P. GPBD segmen ini meroket 83% YoY menjadi Rp458 miliar pada kuartal II 2026 dengan take rate mencapai 25,7%, hasil fokus pada produk bermargin tinggi di kategori elektronik, kebutuhan harian, serta olahraga dan gaya hidup. Segmen ini ditopang 15 gudang seluas sekitar 200.000 meter persegi dan 19 pusat distribusi, plus layanan pengiriman baru “Prioritas” yang menjanjikan pesanan tiba mulai 30 menit setelah pembayaran.

Sebaliknya, Ritel 3P yang mencakup marketplace dan tiket.com masih tertahan: TPV turun 4% YoY pada semester I di tengah konsumen yang selektif dan ketidakpastian makro global, meski GPBD masih naik 3% berkat optimalisasi harga dan monetisasi tambahan di bisnis agen perjalanan daring. Adapun Toko Fisik mencetak pendapatan Rp4,45 triliun, tumbuh 41% YoY, tetapi GPBD-nya stagnan di Rp917 miliar, mengindikasikan bauran yang bergeser ke penjualan smartphone bermargin tipis. Jaringan luringnya terus melebar dengan 36 toko baru sepanjang kuartal II, sehingga total mencapai 326 toko elektronik konsumen, 60 gerai supermarket premium Ranch Market, dan 38 home and living experience center Dekoruma.

Modal kerja menyerap kas, ekspansi ditopang utang bank

Sisi arus kas menunjukkan harga dari pertumbuhan cepat. Kas bersih dari aktivitas operasi negatif Rp180 miliar pada semester I 2026, terutama karena persediaan membengkak 24% menjadi Rp3,63 triliun untuk menopang penjualan. Ditambah belanja investasi Rp193 miliar untuk ekspansi toko fisik, kebutuhan kas ditambal dari aktivitas pendanaan sebesar Rp461 miliar.

Struktur pendanaannya menjadi titik yang perlu diawasi. Utang bank jangka pendek tercatat Rp3,02 triliun, hampir dua kali lipat saldo kas dan setara kas Rp1,63 triliun, dan biaya keuangan pun melonjak 55% YoY menjadi Rp182 miliar. Total liabilitas naik 13% sementara ekuitas tergerus tipis 1% oleh akumulasi rugi. Sebagai bantalan, RUPSLB pada 15 Juni 2026 telah merestui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu hingga 5 miliar saham baru atau maksimal 3,64% dari modal disetor, termasuk 2,19% di luar program kepemilikan saham karyawan.

Manajemen menegaskan kembali target pertumbuhan pendapatan neto 15-20% untuk setahun penuh 2026. Dengan realisasi semester I yang tumbuh 55%, target tersebut tampak sangat konservatif sekaligus mengisyaratkan ekspektasi moderasi pada paruh kedua. Pekerjaan rumah BELI kini bukan lagi soal kecepatan, melainkan mutu: menjaga laju segmen Institusi tanpa margin yang kian tergerus, dan membawa EBITDA melewati titik nol sebelum beban bunga menggerogoti perbaikan yang sudah dicapai.

Leave a Reply

Trending

Discover more from DailySocial.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading