Akulaku Dikabarkan Ajukan IPO di Hong Kong, Targetkan Dana hingga US$500 Juta

2–3 minutes
Akulaku mendapatkan dukungan dari sejumlah investor besar Asia / Akulaku

Akulaku dikabarkan telah mengajukan dokumen penawaran umum perdana saham atau IPO ke Bursa Hong Kong. Perusahaan teknologi penyedia layanan paylater yang beroperasi utama di pasar Indonesia itu disebut menargetkan penghimpunan dana sebesar US$300 juta hingga US$500 juta.

Informasi tersebut pertama kali dilaporkan IFR pada 1 September 2026. Sampai berita ini diterbitkan, informasi tersebut belum secara resmi diumumkan ke pubik, sehingga laporan keuangan dan rincian rencana penawaran belum tersedia. Akulaku juga belum memberikan konfirmasi resmi terkait rencana IPO tersebut.

Akulaku didirikan pada 2016 dan dikenal melalui layanan paylater. Layanan tersebut memungkinkan pengguna membayar pembelian barang secara mencicil, termasuk perangkat elektronik, kebutuhan rumah tangga, dan kebutuhan sehari-hari.

Selain bisnis paylater, Akulaku memiliki layanan pinjaman tunai Asetku serta perusahaan pembiayaan yang beroperasi di Indonesia. Grup ini juga memiliki sekitar 34 persen saham Bank Neo Commerce, bank digital yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Akulaku turut menjalankan bisnis di Filipina, Malaysia, dan Thailand. Di Filipina, perusahaan mengoperasikan bank digital berlisensi.

Didukung Investor Besar

Akulaku mendapatkan dukungan dari sejumlah investor besar Asia. Ant Group, perusahaan teknologi finansial yang terafiliasi dengan Alibaba, menjadi salah satu investor utama Akulaku.

Mitsubishi UFJ Financial Group atau MUFG juga menanamkan investasi sebesar US$200 juta pada Akulaku pada Desember 2022. Sebelumnya, Siam Commercial Bank dari Thailand dilaporkan menginvestasikan US$100 juta ke perusahaan tersebut.

Investasi MUFG pada 2022 disebut memberikan valuasi sekitar US$1,5 miliar kepada Akulaku. Sejumlah laporan pada 2025 kemudian menyebut valuasi perusahaan mendekati US$2 miliar. Namun, angka tersebut belum diuji melalui mekanisme pasar publik.

Rencana IPO di Hong Kong menjadi upaya kedua Akulaku untuk melantai di bursa. Pada 2022, perusahaan sempat menjajaki pencatatan saham di New York melalui merger dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus atau SPAC. Rencana tersebut tidak berlanjut.

Hong Kong Jadi Pilihan

Hong Kong dinilai memiliki daya tarik lebih besar bagi perusahaan Asia yang ingin mengakses investor global. Bursa Hong Kong menghimpun dana IPO lebih dari HK$280 miliar pada 2025 dan kembali masuk jajaran pasar IPO terbesar di dunia.

Pada paruh pertama 2026, nilai penghimpunan dana IPO di Hong Kong mencapai sekitar HK$210 miliar dari lebih dari 80 perusahaan. Kinerja tersebut menjadi pembukaan tahun terkuat bursa Hong Kong dalam lima tahun terakhir.

Sejumlah perusahaan Asia Tenggara juga mulai mempertimbangkan Hong Kong sebagai lokasi pencatatan saham. Pilihan tersebut didorong oleh likuiditas pasar, akses terhadap investor Asia, serta kedekatan dengan jaringan modal China.

Bagi Akulaku, pencatatan di Hong Kong juga dapat menjadi alternatif di tengah kondisi pasar modal Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya mendukung perusahaan teknologi. Sejumlah perusahaan teknologi yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2021 dan 2022 masih diperdagangkan di bawah harga penawaran perdananya.

Tantangan Regulasi dan Profitabilitas

Calon investor akan mencermati rekam jejak regulasi Akulaku dalam prospektus IPO. Pada Oktober 2023, Otoritas Jasa Keuangan membatasi perusahaan pembiayaan Akulaku untuk menyalurkan pinjaman paylater baru.

Pembatasan tersebut diberlakukan setelah perusahaan dinilai belum menyelesaikan sejumlah perbaikan yang diminta regulator. OJK kemudian mencabut pembatasan pada akhir Februari 2024 setelah menerima rencana tindakan perbaikan dari Akulaku, termasuk terkait tata kelola dan manajemen risiko.

Dari sisi kinerja, perusahaan pembiayaan Akulaku di Indonesia mencatat laba bersih sebesar Rp108 miliar pada 2025. Angka tersebut meningkat 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Perusahaan juga menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp7,44 triliun pada tahun yang sama. Sekitar 89 persen dari penyaluran tersebut berasal dari layanan paylater.

Namun, laporan keuangan konsolidasi yang mencakup kepemilikan Akulaku di Bank Neo Commerce dan bisnis internasionalnya belum tersedia untuk publik karena proses pengajuan IPO masih bersifat rahasia.

Leave a Reply

Trending

Discover more from DailySocial.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading