Salim Group mengakuisisi penuh kepemilikan Keppel Data Centres di perusahaan patungan (joint venture / JV) pusat data yang sebelumnya bernama IndoKeppel Data Centres di Bogor, Jawa Barat. Setelah transaksi itu, entitas tersebut berganti nama menjadi IndoData Data Center.
Transaksi akuisisi disebut berlangsung pada Desember 2025, sementara baru diumumkan resmi di publik pada 25 Agustus 2026 melalui pengumuman rebranding. Nilai transaksi belum diungkap ke publik dan hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Keppel terkait pelepasan saham tersebut.
Kerja sama Salim Group dan Keppel dimulai pada 2018 untuk mengembangkan kampus pusat data di lahan sekitar 7 hektare di Bogor. Saat itu, proyek dirancang memiliki kapasitas lebih dari 50 megawatt yang dibangun dalam tiga tahap. Namun, perkembangan proyek berlangsung lebih lambat dari rencana awal.
Fase pertama baru mulai beroperasi pada 2022 dengan kapasitas sekitar 5 MW. Pada saat rebranding diumumkan, IndoData menyebut telah menambah kapasitas 6 MW untuk pelanggan hyperscale yang sudah ada. Dengan demikian, total kapasitas terbangun di lokasi tersebut saat ini sekitar 11 MW.
Di tengah kapasitas yang masih terbatas itu, IndoData menyampaikan klaim ambisius. Perusahaan menyebut telah mengamankan pasokan listrik hingga 500 MW dari PLN untuk pengembangan kampus pusat data di lahan sekitar 30 hektare. IndoData juga menyasar perusahaan AI, penyedia cloud besar, dan pelanggan hyperscale melalui skema fasilitas built-to-suit.
Namun, angka 500 MW itu masih perlu dicermati. Disebutkan bahwa kapasitas tersebut merujuk pada daya yang telah dikontrak, bukan kapasitas pusat data yang sudah dibangun dan beroperasi. Hingga saat ini, IndoData juga belum mengumumkan jadwal pengembangan rinci maupun nama penyewa utama untuk ekspansi dalam skala besar tersebut.
Di pasar yang sama, persaingan bisnis pusat data di Indonesia sudah berkembang pesat. Tercatat kapasitas terpasang pusat data Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 1,7 gigawatt. Sejumlah operator lain juga telah mengumumkan ekspansi besar, termasuk DayOne di Batam dan Princeton Digital Group di Indonesia.
Bagi Keppel, pelepasan aset di Indonesia dinilai sejalan dengan strategi perusahaan yang dalam beberapa tahun terakhir aktif melakukan divestasi. Aset pusat data di Bogor merupakan satu-satunya eksposur langsung Keppel di sektor pusat data Indonesia, sehingga menjadi kandidat yang masuk akal untuk dilepas.
Sementara itu, bagi Salim Group, langkah ini memperlihatkan minat yang lebih besar terhadap infrastruktur digital. Menarik juga disoroti keterkaitan Anthoni Salim dengan DCI Indonesia serta aset pendukung lain yang dimiliki grup, termasuk jaringan serat optik dan infrastruktur kabel, yang dapat memperkuat ekspansi di sektor pusat data.
Meski begitu, tantangan utama IndoData tetap terletak pada eksekusi. Jarak antara klaim pasokan listrik hingga 500 MW dan kapasitas aktual sekitar 11 MW menunjukkan bahwa pengembangan proyek masih berada pada tahap awal. Ke depan, pasar akan menunggu realisasi pembangunan tambahan, kepastian tenant skala besar, dan kejelasan timeline ekspansi sebelum menilai seberapa besar potensi IndoData di industri pusat data Indonesia.





Leave a Reply