Pendiri sekaligus CEO Kopi Kenangan, Edward Tirtanata, dilaporkan menambah kepemilikannya di perusahaan bersama investor awal, Alpha JWC Ventures. Transaksi tersebut menjadi bagian dari penjualan saham sekunder yang nilainya diperkirakan mencapai US$70 juta.
Berbeda dari pendanaan baru, transaksi sekunder merupakan perpindahan saham dari pemegang saham lama kepada investor baru atau pemegang saham yang sudah ada. Dengan demikian, dana transaksi tidak masuk ke kas perusahaan, melainkan diterima oleh pemegang saham yang menjual kepemilikannya.
Alpha JWC Ventures menjadi salah satu pihak yang meningkatkan kepemilikannya. Perusahaan modal ventura tersebut merupakan investor awal Kopi Kenangan dan memimpin pendanaan tahap awal senilai US$8 juta pada 2018.
Ini merupakan keputusan yang menarik karena pendiri dan investor awal menambah kepemilikan ketika sejumlah investor global mulai menjajaki penjualan saham.
Investor global mulai mencari jalan exit
Saham yang dijual dalam transaksi tersebut dikabarkan berasal dari sejumlah investor asing, termasuk GIC dan Peak XV Partners. Keduanya sebelumnya disebut tengah menjajaki penjualan sebagian kepemilikannya di Kopi Kenangan dengan valuasi perusahaan sekitar US$1,2 miliar hingga U$1,4 miliar.
Penjualan saham sekunder menjadi salah satu cara bagi investor modal ventura untuk mengembalikan dana kepada pemodalnya. Banyak dana investasi yang masuk ke Kopi Kenangan pada periode 2018-2020 kini mendekati akhir siklus investasinya.
Namun, pilihan exit bagi investor startup di Asia Tenggara masih terbatas. Pasar modal Indonesia baru memiliki sedikit contoh penawaran umum perdana dari perusahaan rintisan konsumen.
Kopi Kenangan pertahankan kinerja positif
Kopi Kenangan didirikan pada 2017 oleh Edward Tirtanata, James Prananto, dan Cynthia Chaerunnisa. Perusahaan memulai bisnisnya dari satu gerai di kawasan perkantoran Jakarta Selatan dengan modal sekitar US$15.000.
Produk utamanya adalah es kopi susu gula aren yang dijual melalui gerai berkonsep layanan cepat dan aplikasi digital. Dengan harga sekitar Rp18.000 hingga Rp42.000 per gelas, Kopi Kenangan membidik konsumen yang menginginkan produk kopi premium dengan harga lebih terjangkau.
Perusahaan kemudian menarik investasi dari sejumlah investor besar, termasuk Sequoia India, GIC, perusahaan investasi milik salah satu pendiri Facebook, serta kendaraan investasi yang terafiliasi dengan Serena Williams dan Jay-Z.
Pada Desember 2021, Kopi Kenangan mengumumkan pendanaan Seri C senilai US$96 juta. Pendanaan tersebut mengantarkan perusahaan menjadi perusahaan rintisan sektor makanan dan minuman pertama di Asia Tenggara yang mencapai status unicorn.
Total pendanaan yang dihimpun Kopi Kenangan disebut telah melampaui US$230 juta. Setelah mengalami kerugian selama pandemi, perusahaan membukukan laba tahunan untuk pertama kalinya pada 2025.
Berdasarkan data yang dipublikasikan manajemen, pendapatan bersih Kopi Kenangan tumbuh 45 persen menjadi US$184 juta pada 2025. Pada periode yang sama, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar US$17 juta.
Kopi Kenangan menutup 2025 dengan 1.324 gerai yang tersebar di enam negara. Bisnis perusahaan di Malaysia juga hampir menggandakan pendapatan dan mencatatkan laba operasional.
Untuk 2026, manajemen menargetkan pembukaan lebih dari 500 gerai baru. Ekspansi tersebut diharapkan meningkatkan jumlah gerai menjadi 1.848, dengan target pendapatan US$265 juta dan laba bersih US$29 juta.
Rencana IPO masih menunggu keputusan
Kopi Kenangan sebelumnya dikabarkan tengah melakukan pembicaraan awal dengan sejumlah bank terkait rencana IPO. Indonesia dan Singapura menjadi salah satu bursa yang dipertimbangkan, dengan perkiraan valuasi hingga US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun.
Perusahaan belum mengambil keputusan mengenai waktu, lokasi, maupun valuasi IPO. Edward juga pernah menyampaikan bahwa perusahaan rintisan tidak seharusnya terburu-buru melantai di bursa dan perlu memastikan kesiapan bisnis sebelum menjadi perusahaan terbuka.
Penambahan saham oleh pendiri dapat dibaca sebagai sinyal keyakinan terhadap prospek perusahaan. Di sisi lain, transaksi tersebut juga memberi ruang bagi investor lama untuk merealisasikan sebagian investasinya tanpa menunggu proses IPO.
Persaingan bisnis kopi semakin ketat
Prospek Kopi Kenangan tetap menghadapi sejumlah risiko. Industri kopi berjejaring di Indonesia semakin padat dengan kehadiran pemain lokal dan asing.
Janji Jiwa disebut mengoperasikan sekitar 900 gerai, sementara Tomoro yang didukung modal dari China telah memiliki lebih dari 600 gerai. Fore Coffee juga mencatatkan pangsa nilai yang lebih tinggi dibandingkan Starbucks di Indonesia pada 2025, menurut Euromonitor.
Jumlah gerai kopi bermerek di Indonesia diproyeksikan melampaui 10.400 gerai pada 2030. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya peluang pasar, tetapi juga memperketat persaingan dalam hal lokasi, harga, inovasi produk, dan loyalitas pelanggan.
Bagi Kopi Kenangan, keberhasilan mencapai target pertumbuhan dan laba pada 2026 akan menjadi faktor penting menjelang kemungkinan IPO. Jika target tersebut tercapai, keputusan pendiri dan investor awal untuk menambah saham dapat terlihat sebagai langkah strategis. Namun, pelemahan daya beli konsumen dapat membuat ekspansi agresif menjadi lebih berisiko.





Leave a Reply