Pasar quick commerce di Asia Tenggara diproyeksikan mencatat nilai transaksi bruto (GMV) sebesar US$7,3 miliar pada tahun 2025. Angka ini merepresentasikan 4,6 persen dari total pasar e-commerce di kawasan tersebut. Dibandingkan dengan total keseluruhan pasar ritel yang bernilai US$1,09 triliun, kontribusi quick commerce masih berada di kisaran 0,67 persen.

Berdasarkan riset “Quick Commerce in Southeast Asia 2026” oleh Momentum Works, lintasan pertumbuhan quick commerce di Asia Tenggara memiliki karakteristik struktural yang berbeda dari Tiongkok atau India. Sektor ritel fisik (offline) di kawasan ini tetap dominan, terfragmentasi, dan memiliki akar yang kuat di tingkat lokal.
Oleh karena itu, strategi quick commerce di kawasan ini tidak dirancang untuk menggantikan toko fisik. Sebaliknya, layanan ini berfokus pada penambahan lapisan pemenuhan pesanan (on-demand fulfillment) di atas infrastruktur ritel yang sudah berjalan. Ekosistem ini digerakkan oleh tiga simpul pasokan utama: jaringan toko ritel fisik, fasilitas gudang tertutup (dark stores), dan jaringan distribusi yang dikelola langsung oleh penjual daring.
Ekspansi Kategori dan Pemanfaatan Infrastruktur
Pada fase awal, layanan quick commerce sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan bahan pangan pokok. Penetrasi pasar bahan pangan daring di kawasan ini tercatat mencapai 4,2 persen. Saat ini, berbagai platform penyedia layanan mulai memperluas penawaran ke kategori barang umum dan produk perawatan pribadi guna memaksimalkan efisiensi dan kapasitas pengiriman dalam satu rute hiperlokal.
Dalam hal operasional, platform teknologi terkemuka memilih untuk tidak membangun jaringan logistik dari nol. Integrasi dengan infrastruktur layanan pesan-antar makanan dan niaga-el yang sudah eksis memungkinkan penyediaan dua jendela waktu pengiriman: layanan super cepat di bawah satu jam untuk radius jarak dekat, dan pengiriman standar di bawah empat jam untuk cakupan wilayah yang lebih luas.
Dinamika Pasar yang Beragam

Lanskap operasional quick commerce menghadapi tantangan struktural yang berbeda di enam pasar utama Asia Tenggara, sehingga satu pendekatan seragam sulit diterapkan:
- Indonesia dan Thailand: Kedua negara ini memiliki ekosistem toko ritel modern dan minimarket yang sangat optimal. Kuatnya infrastruktur ini membuat para peritel memiliki sedikit insentif ekonomi untuk berinvestasi secara mandiri dalam membangun kapabilitas quick commerce mereka sendiri.
- Singapura: Pasar ini mencatatkan tingkat adopsi konsumen tertinggi terhadap layanan digital. Namun, skala pasar yang kecil ditambah ketatnya unit economics menyulitkan perusahaan penyedia layanan untuk mencapai skala ekonomis yang profitabel.
- Malaysia: Lanskap ritel secara struktural terfragmentasi tetapi tetap kompetitif. Topografi perkotaannya memungkinkan berbagai entitas peritel untuk bersaing secara beriringan tanpa dominasi mutlak dari satu pemain.
- Vietnam dan Filipina: Kebiasaan berbelanja konsumen di kedua negara ini masih sangat terikat pada saluran perdagangan tradisional. Di Vietnam, pembelian produk segar masih berpusat pada pasar tradisional dan penggunaan layanan digital hanya terbatas di kota besar. Sementara di Filipina, kebutuhan harian masyarakat mayoritas masih dilayani oleh jaringan toko kelontong informal di permukiman warga.
Secara keseluruhan, ekspansi pasar quick commerce di Asia Tenggara tidak bergantung pada disrupsi, melainkan pada kemampuan beradaptasi dan efisiensi dalam memanfaatkan infrastruktur fisik yang telah mengakar kuat di masing-masing wilayah.





Leave a Reply