Mendalami IPO Startup Bersama East Ventures, Studi Kasus FORE dan WBSA

6–10 minutes
Willson Cuaca, Co-Founder & Managing Partner East Ventures

Lanskap IPO startup Indonesia berubah cepat dalam dua tahun terakhir. Fore Coffee (IDX: FORE) melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2025 dengan kelebihan permintaan (oversubscription) 200x dan 116.000 investor. Setahun berselang, Waresix (IDX: WBSA) menyusul pada 2026 dengan oversubscription 386x dan 913.000 investor. Keduanya berasal dari portofolio yang sama, East Ventures.

Salah satu sosok penting di balik kedua aksi korporasi tersebut, Co-Founder & Managing Partner East Ventures Willson Cuaca, hadir sebagai pembicara utama #SelasaStartup edisi “From Startup to Public Company (IPO): Industry Insights” yang digelar di Garuda Spark Innovation Hub (GSIH), Ganara Art, FX Sudirman, Jakarta, Selasa (30/6).

Acara yang dihadiri kalangan founder, CFO, dan operator startup ini dibuka dengan sambutan Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi Sonny Hendra Sudaryana, lalu dilanjutkan fireside chat yang dipandu Founder & CEO DailySocial.id Rama Mamuaya.

Dalam sambutannya Sonny mengajak para founder memanfaatkan forum #SelasaStartup sebagai ruang belajar sekaligus membangun optimisme dalam mengembangkan startup di Indonesia. “Kita harus gelorakan lagi, restart ekosistem dengan program-program yang benar-benar membantu startup untuk bisa scale dan bertumbuh.”

IPO Bukan Titik Akhir

Willson membuka sesi dengan meluruskan cara pandang yang menurutnya paling sering keliru. Berkaca dari banyak IPO perusahaan teknologi sebelumnya, ia menilai tidak sedikit investor publik yang justru merugi setelah ikut serta. Dari situlah desain IPO Fore dan Waresix berangkat.

“Kita berpikir gimana caranya kita desain IPO yang semuanya utuh. Ini long term frame. IPO itu bukan end point, it’s just a means to the end. Ujungnya itu perusahaan yang berkelanjutan,” ujar Willson.

Konsekuensi dari kerangka itu, para pemegang saham lama tidak menjadikan IPO sebagai pintu keluar (exit). “Makanya waktu itu kita bilang, kita IPO tapi kita nggak exit. Dan saya mengkomunikasikan ini terus-terus, karena semua orang itu merasa IPO adlaah exit,” tegasnya. Filosofi ini pula yang menjadi benang merah acara: IPO adalah kelulusan, penanda bisnis naik kelas menjadi lebih sustainable dan predictable, bukan garis finis.

Perusahaan Harus Benar Dulu, Baru Saham Mengikuti

Di balik seluruh diskusi soal valuasi, Willson menaruh satu prinsip yang menurutnya berlaku universal. “Bangun startup itu mau IPO atau tidak, mau diinvestasi oleh investor atau tidak, semuanya sama. The company must make money,” katanya.

Ia mengingatkan, begitu pihak ketiga masuk, sifat kepemilikan bisnis ikut berubah. “Begitu ada pihak ketiga yang ikut ke dalam bisnis, it’s no longer your own business, it’s no longer family business. You have partners,” ujarnya.

Willson juga menolak logika yang menempatkan kepuasan pemegang saham di atas kesehatan perusahaan. “Kalau perusahaan benar, shareholders pasti happy. Kalau kamu bikin shareholders happy tapi perusahaan nggak benar, semua nggak happy,” katanya.

Pada kasus Fore, prinsip itu diterjemahkan hingga level paling mikro. Alih-alih ekspansi agresif, Fore menjaga agar setiap gerai menguntungkan di tingkat unit, dengan pemilihan lokasi dan eksekusi yang ketat. Jumlah gerainya relatif kecil dibanding pemain kopi lain, tetapi konsisten positif, dan konsistensi itulah yang menjadi tulang punggung cerita profitabilitasnya. Ketika ditanya metrik paling sederhana untuk menilai kesiapan IPO, jawabannya singkat: EBITDA.

Jangan Menunggu Timing Sempurna

Pelajaran paling kontra-intuitif datang dari tanggal pencatatan Fore, 14 April 2025, hari perdagangan pertama setelah libur Lebaran. Tepat sebelum itu, pengumuman tarif Presiden AS Donald Trump merontokkan bursa global. Pasar saham Amerika jatuh, disusul bursa Asia. Di tengah kepanikan itu, masa penawaran Fore justru mencatat lonjakan pesanan investor ritel hingga oversubscribed ratusan kali. Pola serupa terulang pada Waresix, yang menjadi satu-satunya IPO pada semester tersebut.

Dari pengalaman itu Willson menarik kesimpulan tegas. “Timing itu paling tidak penting, karena you cannot find the perfect timing,” ujarnya.

Alasannya sangat teknis. “Timing kamu IPO itu tergantung audit, tergantung approval IDX, tergantung approval OJK,” jelasnya. Jendela IPO ditentukan banyak pihak di luar kendali founder, sehingga yang bisa dikendalikan hanyalah kesiapan perusahaan itu sendiri.

Disiplin Dibangun Sejak Series A

Untuk founder tahap awal, pesan praktis Willson adalah kedisiplinan ala perusahaan publik tidak bisa dikebut enam bulan menjelang IPO. Proses IPO, katanya, pada dasarnya memaksa perusahaan menjadi disiplin: laporan keuangan harus rapi, audit harus bersih, dan jejak operasional harus bisa diverifikasi, termasuk pengecekan keberadaan gerai secara fisik oleh otoritas bursa.

Inti dari semua itu adalah prediktabilitas. “You have to be predictable. In order for you to be predictable, there’s many things that you have to do consistently,” katanya. SOP harus dijalankan, proyeksi harus dijaga, dan faktor eksternal harus terus dipetakan. Audit yang tepat waktu hanya mungkin jika buku ditutup tepat waktu, yang berarti input data sudah harus rapi jauh sebelum tutup buku.

Menariknya, Willson menyebut kemampuan itu tidak diajarkan menjelang IPO, melainkan hasil pembelajaran panjang yang berakar pada kesadaran diri. “If you have a good self-awareness, you can learn how to become a company, how to start a company, how to grow a company, how to manage a company. Before IPO, during IPO, after IPO,” ujarnya.

Ia juga menekankan satu ciri yang membedakan Fore dan Waresix: keduanya tidak bergantung pada satu sosok. “The company become institution. The system must run,” katanya. Pengambilan keputusan strategis tetap membutuhkan figur kunci, tetapi operasional harian harus berjalan tanpa menunggu satu orang.

Pilih Bursa yang Mengerti Bisnis Anda

Perdebatan klasik di ruang rapat menjelang IPO adalah memilih tempat listing: Indonesia, Singapura, Hong Kong, Australia, atau Amerika Serikat. Prinsip Willson sederhana. “In reality, my basic principle, kamu harus listing di market yang mengerti kamu,” ujarnya.

Untuk Fore, logikanya gamblang. Di Indonesia, publik langsung mengenali produknya begitu melantai, sehingga proses jauh lebih mudah. Seandainya dipaksakan listing di Singapura, hampir tidak ada yang tahu Fore itu apa. Bursa Amerika lebih menantang lagi karena menuntut skala organisasi tertentu agar dilirik.

Sektor Gelombang IPO Berikutnya?

Ketika peserta bertanya sektor apa yang akan memimpin gelombang IPO Indonesia menjelang 2027, Willson menolak menyederhanakannya ke satu kategori. “We are sector agnostic. When we invest, we are sector agnostic. When we IPO a company, we are sector agnostic. That is consistent,” ujarnya.

Menurutnya, yang menentukan bukan sektor melainkan kualitas perusahaan: manajemen kuat, fondasi kokoh, kredibilitas, berada di pasar besar, serta mampu menangkap peluang sebelum orang lain menyadarinya. Fore ia sebut sebagai contoh, karena bukan sekadar bisnis kopi. “Fore itu coffee company yang punya app sendiri pertama kali, di tahun 2018,” katanya. Dengan mendigitalkan konsumen, rantai pasok di belakangnya bisa dibuat jauh lebih efisien, dan profitabilitas ikut terkerek.

Soal tren pun ia punya definisi sendiri. “Tren itu terbentuk karena ada sequence of event yang mirip-mirip. Itu yang kita sebut tren,” ujarnya.

AI Hanya Alat, Domain Expertise Justru Makin Penting

Menjawab pertanyaan soal gelombang AI, Willson mengambil posisi seimbang. Baginya, AI mengubah alat, bukan masalah yang harus diselesaikan. “Problem itu selalu sama. AI itu tools-nya yang berbeda,” katanya, sembari menarik analogi evolusi pembuatan produk dari era menulis HTML manual ke Dreamweaver hingga kini AI. Waktu membangun produk menyusut, tetapi esensi prosesnya tidak hilang.

Justru di titik ini ia menaruh peringatan. “Di era AI ini, domain expertise itu tambah penting sebenarnya. Karena AI itu cuma tools. Kalau semuanya dilempar ke AI tanpa ada domain expertise, AI itu yang bakal menentukan arahnya,” ujarnya. “Human intuition itu masih penting banget. AI itu harus selalu di-combine dengan human intelligence.”

Ada satu hal yang menurutnya belum bisa dilakukan mesin: membaca keyakinan founder. “Kalau founder-nya lagi panik, korek-korek kuku, AI nggak bisa baca. Kalau kita kebetulan bisa,” katanya disambut tawa peserta.

Mencari Momentum Baru untuk Ekosistem

Bagian paling reflektif muncul saat Willson bicara kondisi ekosistem hari ini, dan ia tidak menutupinya. “It is very hard, because right now we are in the lowest moment. We need that momentum,” ujarnya.

Ia menggambarkan posisi Indonesia dengan analogi gim klasik. “Ibaratnya kita main Super Mario Bros. Dulu saya mainnya dari 1-1, 1-2, 1-3. Sekarang ulangnya itu dari 3-1, 3-2, 3-3,” katanya. Reset yang terjadi bukan dari nol, karena infrastruktur yang dibangun bertahun-tahun masih ada. “Kondisinya dulu pengguna internet cuma 30 juta. Sekarang semua jadi pengguna internet,” ujarnya, ditambah penetrasi mobile yang melampaui populasi dan adopsi AI yang meluas.

Terhadap data penurunan jumlah pendanaan tahap awal, Willson mengaku tidak khawatir. “We need quality, not quantity. I just need one good story,” katanya. Ia menegaskan East Ventures masih aktif berinvestasi, termasuk di tahap awal, dan mengenang masa awal ketika belum ada rekam jejak. “In the beginning we actually put our own money,” ujarnya.

Menjawab pertanyaan peserta soal peran pemerintah, jawabannya konkret: “Government harus bikin platform,” yakni ruang kolaborasi tempat pelaku ekosistem bisa bertemu, seperti hub yang menjadi lokasi acara ini. Dalam sesi tersebut juga disebutkan bahwa saat ini sudah ada tujuh hub serupa yang berjalan, dengan rencana perluasan hingga Papua.

Yang tak kalah penting, kata Willson, adalah memperbanyak narasi positif. “Tugas kita bikin banyak berita bagus. Karena nanti lama-lama berita bagusnya lebih banyak daripada berita buruk,” ujarnya.

Di tengah semua tantangan itu, satu kalimatnya merangkum sikap East Ventures. “I don’t know whether we can make it, but we have to do it again. Because if it’s not us, then who?

Pesan untuk Founder

Menutup sesi, Willson mengembalikan semuanya ke hal paling dasar: keberanian mengeksekusi. “Semua yang punya ide harus pergi dan melakukannya. Orang yang gagal itu dia udah belajar. Orang yang tidak mencoba itu dia udah gagal sebelum mencoba,” katanya. Founder, lanjutnya, perlu kembali ke prinsip dasar membangun perusahaan: membaca problem statement dengan jernih, lalu membangun, dengan AI sebagai alat dan domain expertise sebagai kemudi.

Bagi founder yang membidik IPO lima hingga tujuh tahun ke depan, pesan dari #SelasaStartup edisi ini terang benderang: disiplin tidak dimulai saat lonceng bursa berbunyi. Ia dimulai hari ini.

Leave a Reply

Trending

Discover more from DailySocial.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading