Asia Tenggara memasuki fase “winter” baru bagi pendanaan fintech. Laporan “FinTech in ASEAN 2025: Navigating the New Realities” yang dirilis UOB bersama PwC Singapore dan Singapore FinTech Association mengungkap, total pendanaan fintech di enam ekonomi terbesar ASEAN hanya sekitar US$835 juta pada sembilan bulan pertama 2025 (9M25), turun 36% dibanding periode yang sama tahun lalu. Jumlah kesepakatan juga merosot menjadi 53 deal, anjlok 60% dan menjadi yang terendah dalam satu dekade.

Menariknya, di tengah tekanan tersebut, kualitas dan ukuran transaksi justru membesar. Rata-rata nilai pendanaan per deal naik 42% menjadi sekitar US$21,4 juta pada 9M25. Investor disebut semakin selektif dan mengalihkan fokus dari startup tahap awal yang mengejar pertumbuhan agresif ke fintech tahap lanjut yang sudah terbukti lebih matang, mampu menunjukkan jalur profitabilitas, skalabilitas, dan keberlanjutan bisnis.
Tren ini tercermin dari fintech tahap lanjut yang menyerap 67% dari total pendanaan fintech ASEAN pada 9M25, naik 24 poin persentase secara tahunan. Rata-rata nilai pendanaan per deal tahap lanjut juga melonjak sekitar 40% menjadi US$112 juta, terdorong oleh tiga mega deal yang jika digabung mencapai hampir US$450 juta. Konsentrasi dana pada segelintir pemain besar menegaskan fase konsolidasi di ekosistem fintech kawasan.
Dari sisi geografis, Singapura kian menegaskan diri sebagai pusat fintech regional. Negara ini menyerap 87% dari total pendanaan fintech kawasan pada 9M25, setara lebih dari US$725 juta, naik signifikan dari porsi 57% pada 9M24 dan 65% pada 9M23. Singapura juga menyumbang lebih dari separuh dari 53 deal yang terjadi di kawasan, dengan fokus dominan pada solusi blockchain untuk jasa keuangan dan teknologi investasi. Delapan dari sepuluh fintech dengan pendanaan terbesar di ASEAN berbasis di Singapura, lima di antaranya merupakan pemain tahap lanjut.

Posisi Indonesia justru melemah. Meski masih berada di urutan kedua setelah Singapura, porsi pendanaan fintech Indonesia turun drastis dari sekitar 20% pada 9M24 menjadi hanya 4% pada 9M25. Jumlah deal di Indonesia juga menyusut dari 23 kesepakatan menjadi hanya 10. Filipina menyamai Indonesia di posisi kedua dari sisi porsi pendanaan, dengan lima deal dan salah satu di antaranya—startup lending alternatif Salmon—masuk dalam enam deal terbesar di kawasan sebagai pemain tahap awal.
Tiga pasar lain, yakni Malaysia, Thailand, dan Vietnam, secara kolektif hanya menyumbang kurang dari 10% pendanaan fintech ASEAN sepanjang 9M25. Ketiganya juga mengalami penurunan aktivitas deal yang cukup signifikan, menandakan ketatnya kompetisi untuk menarik modal di luar pusat utama seperti Singapura.
Perwakilan UOB dan PwC dalam laporan ini menegaskan bahwa meski valuasi menurun dan pendanaan melambat, kepercayaan investor terhadap fintech Asia Tenggara belum hilang. Modal kini lebih banyak mengalir ke perusahaan dengan manajemen risiko kuat, model bisnis lincah, strategi ekspansi organik maupun anorganik yang jelas, serta komunikasi yang baik dengan pemangku kepentingan. Pendekatan yang lebih disiplin ini dinilai menjadi fondasi bagi ekosistem fintech yang lebih dewasa dan tahan guncangan.
Bagi Indonesia, temuan laporan ini menjadi sinyal penting bahwa akses pendanaan tidak lagi ditentukan oleh pertumbuhan semata. Di tengah melemahnya porsi pendanaan ke Tanah Air, fintech lokal perlu menonjolkan jalur profitabilitas yang jelas, tata kelola yang kuat, serta kemampuan berkolaborasi dengan perbankan dan pelaku jasa keuangan lainnya. Di sisi lain, peran regulator dan lembaga keuangan nasional untuk menciptakan iklim yang kompetitif dan mendukung ekspansi regional juga akan menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam peta persaingan fintech Asia Tenggara.





