Pendapatan Bukalapak H1 2026 Naik 29%, Adjusted EBITDA Positif Dua Kuartal Beruntun

3–4 minutes
Kinerja Bukalapak H1 2026

PT Bukalapak.com Tbk. (IDX: BUKA) menutup paruh pertama (H1) 2026 dengan sinyal bahwa transformasi bisnis yang bergulir sejak awal 2025 mulai menemukan bentuk. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan neto perseroan mencapai Rp3,99 triliun sepanjang semester I 2026, tumbuh 29,3% secara tahunan (YoY) dari Rp3,09 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pada kuartal II 2026, pendapatan tercatat Rp1,62 triliun, relatif stabil dibanding Rp1,63 triliun pada kuartal II 2025. Margin kontribusi, yakni pendapatan dikurangi beban pokok pendapatan serta beban penjualan dan pemasaran, mencapai Rp72 miliar pada kuartal II 2026, sehingga akumulasi semester I naik 11% YoY menjadi Rp171 miliar.

Adjusted EBITDA positif dua kuartal beruntun

Indikator yang paling disorot manajemen adalah adjusted EBITDA yang kembali positif Rp6 miliar pada kuartal II 2026, melanjutkan capaian Rp4 miliar pada kuartal I. Secara kumulatif, adjusted EBITDA semester I 2026 tercatat Rp10 miliar, berbalik dari posisi negatif Rp34 miliar pada semester I 2025 atau membaik Rp44 miliar dalam setahun.

Perbaikan tersebut ditopang disiplin biaya. Beban operasional di luar depresiasi dan pos satu kali turun 14% YoY menjadi Rp161 miliar pada semester I 2026. Laporan keuangan perseroan juga mencatat beban umum dan administrasi menyusut 37% YoY menjadi Rp194,1 miliar.

“Kami tetap berfokus pada disiplin operasional, peningkatan kualitas pendapatan, serta pengembangan bisnis yang berkelanjutan di seluruh segmen,” ujar Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana dalam keterangan resmi, Selasa (28/7/2026).

Gaming menyumbang lebih dari 85% pendapatan

Secara sektoral, gaming kini menjadi tulang punggung BUKA. Segmen ini membukukan pendapatan Rp1,39 triliun pada kuartal II 2026, naik 2% YoY, dan menyumbang lebih dari 85% total pendapatan segmen perseroan. Sepanjang semester I 2026, pendapatan gaming melesat 42% YoY menjadi Rp3,49 triliun, didorong ekspansi bisnis internasional.

Kualitas pertumbuhannya juga terjaga. Margin kontribusi segmen gaming naik 31% YoY menjadi Rp81 miliar pada semester I 2026, sementara adjusted EBITDA segmen tumbuh 37% YoY menjadi Rp36 miliar. Meski demikian, rasio margin kontribusi terhadap pendapatan yang berada di kisaran 2,3% mencerminkan karakter bisnis distribusi produk digital bervolume besar dengan margin tipis, sehingga skala menjadi kunci profitabilitas segmen ini.

Mitra pangkas produk bermargin rendah, BMoney tumbuh paling cepat

Segmen Mitra Bukalapak mencatatkan pendapatan Rp152 miliar pada kuartal II 2026, turun dari Rp188 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini merupakan konsekuensi langkah konsolidasi perseroan yang memfokuskan portofolio pada produk bermargin tinggi.

Strategi tersebut terbaca pada profitabilitas. Margin kontribusi segmen Mitra justru melonjak 48% YoY menjadi Rp29 miliar pada kuartal II 2026, dengan rasio margin kontribusi hampir dua kali lipat dari 10,4% menjadi 19,0%. Adjusted EBITDA segmen ini berbalik positif Rp8 miliar dari sebelumnya negatif Rp9 miliar, dan mencetak Rp6 miliar sepanjang semester I 2026 dari posisi negatif Rp13 miliar tahun lalu.

Pertumbuhan tercepat datang dari segmen investasi melalui platform BMoney. Pendapatannya naik 68% YoY menjadi Rp44 miliar pada semester I 2026, ditopang nilai dana kelolaan (assets under management) yang menembus Rp6 triliun. Margin kontribusi segmen ini turut tumbuh 62% YoY menjadi Rp15 miliar.

Adapun segmen ritel masih tertekan. Pendapatannya turun 14% YoY menjadi Rp139 miliar pada semester I 2026 di tengah permintaan yang melemah dan pembatasan kuota impor. Perseroan merespons dengan efisiensi persediaan serta pengembangan gerai secara selektif, meski adjusted EBITDA segmen ini masih negatif Rp7 miliar.

Rugi bersih bersumber dari pos non-kas, posisi kas tetap tebal

Di balik perbaikan operasional, BUKA membukukan rugi periode berjalan Rp817,8 miliar pada semester I 2026, berbalik dari laba Rp467,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu, dengan rugi bersih per saham dasar Rp8,53.

Tekanan terbesar bukan berasal dari operasional inti, melainkan rugi nilai investasi Rp1,75 triliun yang mayoritas merupakan rugi marked-to-market atas investasi perseroan di Allo Bank dan bersifat non-kas. Beban tersebut sebagian terimbangi oleh pendapatan operasi lainnya Rp793,2 miliar serta pendapatan keuangan Rp214,6 miliar.

Dari sisi likuiditas, perseroan masih memegang kas dan setara kas Rp14,25 triliun per 30 Juni 2026. Bila memperhitungkan penempatan pada reksa dana dan obligasi pemerintah, total kas dan investasi likuid BUKA mencapai Rp16,4 triliun. Penurunan saldo kas dibanding akhir 2025 antara lain dipengaruhi program pembelian kembali (buyback) saham yang berjalan sejak Maret 2025 serta realokasi kas ke instrumen lain.

Victor menegaskan, dengan dukungan neraca yang solid, perseroan akan menjaga disiplin operasional dan berfokus pada pertumbuhan berkelanjutan di seluruh segmen.

Bagi pasar, catatan berikutnya adalah keberlanjutan momentum: gaming kini menjadi tumpuan pendapatan sekaligus titik konsentrasi risiko, sehingga konsistensi pertumbuhan segmen tersebut, bersama perbaikan margin Mitra dan laju BMoney, akan menentukan apakah profitabilitas operasional BUKA dapat bertahan hingga akhir 2026.

Leave a Reply

Trending

Discover more from DailySocial.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading