Pendanaan fintech di Asia Tenggara mengalami penurunan sebesar 23% pada tahun 2024, mencapai angka $1,6 miliar dibandingkan $2,1 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini didasarkan pada temuan data yang dirilis dalam laporan “Tracxn Geo Annual Report: SEA FinTech 2024”.

Meskipun menurun, sektor ini tetap menjadi salah satu yang paling berprestasi dalam ekosistem startup teknologi di kawasan tersebut, menunjukkan ketahanan di tengah tantangan makroekonomi, kenaikan suku bunga, dan ketegangan geopolitik.
Pendanaan pada semua tahap mengalami penurunan signifikan, terutama pada putaran pendanaan tahap akhir. Pendanaan tahap awal tercatat turun 16% menjadi $750 juta, sementara tahap akhir turun 31% menjadi $694 juta. Namun, segmen pembayaran dan cryptocurrency mencatat pertumbuhan mencolok, masing-masing naik 53% ($366 juta) dan 20% ($325 juta).
Dilihat dari sebarannya, Singapura memimpin dengan total pendanaan $955 juta, diikuti Jakarta ($242 juta) dan Bangkok ($198 juta).
Kesepakatan Besar dan Unicorn Baru
Kesepakatan terbesar pada tahun ini adalah pendanaan Seri D Ascend Money senilai $195 juta. Selain itu, ANEXT Bank dan Bolttech masing-masing mendapatkan pendanaan lebih dari $100 juta. Polyhedra Network menjadi satu-satunya unicorn baru setelah mengamankan pendanaan Seri B senilai $20 juta dengan valuasi $1 miliar.
Singapura memimpin aktivitas pendanaan dengan $955 juta, diikuti Jakarta ($242 juta) dan Bangkok ($198 juta). Investor aktif mencakup East Ventures, Y Combinator, dan 500 Global, sementara pendukung tahap awal seperti Antler dan Mirana juga menonjol.
Asia Tenggara dipandang sebagai wilayah dengan potensi pertumbuhan jangka panjang, didorong oleh populasi muda yang melek teknologi, basis konsumen besar, serta dukungan pemerintah untuk inklusi keuangan. Namun, tantangan seperti penurunan permintaan dan risiko geopolitik tetap perlu diatasi.
–
Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan teknologi AI dan supervisi penulis konten






Leave a Reply