Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) merayakan hari ulang tahun ke-10 melalui forum dialog kebijakan bertema “Modal Ventura sebagai Katalis Pertumbuhan Ekonomi Nasional: Refleksi Satu Dekade dan Strategi ke Depan.” Acara ini mempertemukan regulator, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah masa depan industri modal ventura di Indonesia.
Peran Satu Dekade
Dalam siaran persnya, Amvesindo menyebut telah menjadi wadah bagi perusahaan modal ventura sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembiayaan alternatif. Selama satu dekade, industri ini disebut ikut menggerakkan startup dan UMKM, yang dikaitkan dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional dan penyerapan 97 persen tenaga kerja Indonesia.
Amvesindo juga menyoroti perubahan besar dalam ekosistem pembiayaan, mulai dari gelombang investasi digital hingga lahirnya regulasi baru melalui UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) dan POJK Nomor 25 Tahun 2023. Reformasi itu membuka ruang bagi model kelembagaan baru, yakni Venture Capital Corporation (VCC) dan Venture Debt Corporation (VDC).
Agenda Kebijakan
Perayaan HUT ke-10 tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi diarahkan sebagai forum untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan konkret. Empat isu utama yang dibahas meliputi penyesuaian perpajakan bagi VCC dan VDC, pengembangan instrumen pembiayaan inovatif, harmonisasi regulasi, serta strategi menarik modal domestik.
Ketua Amvesindo, Dr. Eddi Danusaputro, menegaskan bahwa peluang terbesar industri ada pada kolaborasi lintas lembaga yang lebih terintegrasi. Ia menyebut ekosistem pembiayaan perlu terus diperkuat agar lebih inklusif dan mampu mendukung pembiayaan sektor produktif.
Pandangan Regulator
Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Pembiayaan Perusahaan Modal Ventura dan Lembaga Keuangan Khusus OJK, Andra Sabta, menekankan pentingnya tata kelola yang kuat dalam industri yang berisiko tinggi ini. Ia juga mengajak investor dan pelaku usaha baru memahami karakteristik risiko agar dapat berkontribusi optimal bagi ekosistem pembiayaan nasional.
Dalam sesi panel, Winter Marbun dari OJK menyampaikan bahwa OJK hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pengembang industri. Ia membuka peluang sinergi dengan instrumen pembiayaan lain seperti crowdfunding untuk memperluas dan mengefisienkan ekosistem.
Hasil yang Ditargetkan
Dari diskusi tersebut, Amvesindo menargetkan lahirnya sejumlah keluaran, termasuk rekomendasi penyesuaian ketentuan perpajakan, rumusan fund of funds nasional, serta peta jalan harmonisasi regulasi OJK dan kebijakan fiskal Kementerian Keuangan. Organisasi ini juga berharap ada komitmen bersama antara industri dan regulator untuk memperkuat modal ventura nasional.
Acara digelar pada Selasa, 9 Juni 2026, di Hotel Le Meridien Jakarta dengan peserta sekitar 50 hingga 70 undangan dari OJK, kementerian/lembaga terkait, akademisi, anggota, dan mitra Amvesindo.






Leave a Reply