Perusahaan fintech lokal DigiAsia Bios (NASDAQ: FAAS) mengumumkan perubahan strategi dengan meninggalkan pendekatan “super app” dan beralih ke “simple app”. Langkah ini menegaskan fokus perusahaan pada penguatan layanan keuangan inti dan percepatan adopsi dompet tertanam (embedded wallet) untuk platform pihak ketiga .
Perusahaan menyebut aplikasi yang disederhanakan akan menonjolkan fitur transaksi yang paling sering digunakan pengguna, berdasarkan analisis data historis. Tujuannya, meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus mempermudah integrasi solusi embedded finance ke aplikasi mitra .
DigiAsia juga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan performa onboarding, proses Know Your Customer (KYC), dan deteksi penipuan. Penguatan ini diharapkan mendongkrak keamanan, mengurangi friksi, dan mempercepat pertumbuhan bagi mitra serta pengguna akhir .
“Kesederhanaan adalah pengungkit skala,” ujar Co-CEO DigiAsia, Prashant Gokarn, menekankan bahwa fokus pada kebutuhan paling berdampak akan menghadirkan layanan yang lebih cepat, aman, dan relevan sembari memperkuat pertumbuhan ekosistem mitra .
Co-CEO Alex Rusli menambahkan, pergeseran ini ditujukan untuk memperkuat posisi DigiAsia sebagai penyedia dompet tertanam terdepan di Indonesia, dengan dukungan peningkatan KYC dan deteksi fraud berbasis AI untuk mendorong traksi mitra dan pengguna .
DigiAsia menyatakan strategi baru tersebut sejalan dengan kebutuhan ekonomi digital Indonesia dan komitmen perusahaan sebagai mitra embedded finance tepercaya .
Kemitraan Strategis dengan PayMate
Sejalan dengan langkah tersebut, DigiAsia juga sempat mengumumkan kemitraan strategis dengan PayMate, perusahaan pembayaran B2B asal India. Kolaborasi ini menargetkan ekspansi solusi fintech di India, Asia Tenggara, dan Timur Tengah dengan fokus pada embedded finance, penyelesaian transaksi digital, dan infrastruktur AI .
Melalui kerja sama ini, DigiAsia akan mengimplementasikan platform kartu korporasi milik PayMate di Asia Tenggara, sementara PayMate akan memanfaatkan lisensi valas dan infrastruktur pembayaran DigiAsia untuk mendukung transaksi B2B di kawasan Asia Pasifik. Kolaborasi ini juga akan menghadirkan sistem penyelesaian transaksi yang mendukung berbagai mata uang digital, termasuk USDT, USDC, BTC, ETH, SOL, dan TRX, yang dapat dikonversi ke mata uang fiat utama .
Selain itu, aset teknologi DigiAsia berupa 5.120 GPU NVIDIA akan digunakan untuk membangun layanan GPU-as-a-Service, guna memenuhi kebutuhan pemrosesan AI di sektor keuangan, telekomunikasi, hingga layanan publik. Kemitraan ini juga mengikuti kesepakatan PayMate yang dikabarkan akan mengakuisisi operasi DigiAsia di Indonesia senilai $400 juta pada September 2024 .
Sebelumnya, kabar akuisisi ini memang sempat menjadi rumor ketika PayMate menandatangani perjanjian awal untuk membeli unit Fintech-as-a-Service (FaaS) milik DigiAsia. Kala itu, kesepakatan juga mencakup tambahan investasi tunai sebesar $25 juta , dengan rencana membawa entitas gabungan melantai di Bursa Efek Nasional India (NSE) pada 2025.





