Foundry Collective sukses menyelenggarakan Indonesia Food Resilience Forum 2025 di Soehanna Hall, Jakarta. Forum eksklusif ini mempertemukan lebih dari 200 pemimpin dari regulator, pelaku industri, investor, hingga inovator di bidang terkait untuk bersama-sama merumuskan peta jalan ketahanan pangan dan keamanan nutrisi nasional.
Sebagai salah satu negara produsen pertanian terbesar di dunia dengan hampir 30 juta petani, Indonesia berada di garis depan transformasi sistem pangan global di mana peningkatan permintaan, transisi iklim, dan teknologi saling bertemu. Forum ini menjadi wadah kolaborasi yang menyatukan kebijakan, inovasi, dan investasi untuk mempercepat kemajuan menuju masa depan pangan yang berkelanjutan dan aman.
Dalam sambutan pembukanya, Founder & Chairman Foundry Collective Andy Zain menyampaikan “Indonesia adalah negara agraris yang memiliki modal luar biasa, mulai dari tanah subur, iklim terbaik, komoditas unggulan, dan generasi muda yang siap berkarya. Kini saatnya kita menyatukan inovator, petani milenial, dan pelaku besar agribisnis untuk membangun ekosistem pangan yang kuat dan berkelanjutan. Ini baru permulaan, dan bersama-sama kita akan menggerakkan Indonesia maju.”

Pentingnya Ketahanan Pangan bagi Indonesia
Ketahanan pangan bukan sekadar isu domestik, melainkan keharusan global yang membutuhkan aksi lokal dan kerja sama internasional. Indonesia menghadapi tantangan struktural yang mendesak seperti fragmentasi jutaan petani kecil yang menghidupi 280 juta penduduk, namun sebagian besar masih mengandalkan metode tradisional. Di tengah tekanan perubahan iklim, volatilitas ekonomi, dan standar global baru, modernisasi sistem pangan menjadi keharusan mutlak.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudi mengatakan dalam forum tersebut “Presiden Prabowo menegaskan bahwa tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka bila tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Saat ini lebih dari 40% petani Indonesia berasal dari Generasi X dan lebih dari 38% berusia di atas 60 tahun. Pergeseran demografi ini menciptakan kesenjangan teknologi yang serius, karena adopsi teknologi pertanian modern masih sangat terbatas. Karena itu, modernisasi pertanian menjadi keharusan. Melalui Indonesia Food Resilience 2025 dan kolaborasi lintas sektor, kita harus bergerak dari wacana menuju aksi nyata untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan Indonesia.”
Senada dengan itu, Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih menyatakan “Pangan adalah masa depan bangsa. Di tengah krisis iklim, volatilitas ekonomi, dan standar global baru, pangan bukan sekadar komoditas tetapi fondasi daya saing dan kualitas generasi. Ketahanan pangan hanya dapat dicapai bila seluruh elemen sistem pangan, dari hulu hingga hilir, bergerak dalam sinergi. Transformasi sistemik melalui ilmu pengetahuan, hilirisasi industri, dan inklusi petani kecil adalah kunci menuju kedaulatan pangan yang adil dan berkelanjutan.”
Peluncuran Laporan “Food Resilience through Innovation and Technology”
Forum ini juga menjadi ajang peluncuran resmi laporan riset “Food Resilience through Innovation and Technology: Pathways for a Nourished Future” yang disusun oleh Foundry Collective bekerja sama dengan DailySocial. Laporan ini memetakan bagaimana inovasi digital dapat memperkuat ketahanan sistem pangan Indonesia, sekaligus memberikan wawasan bagi investor dan pembuat kebijakan mengenai peluang di sektor keamanan pangan dan agritech.
Temuan Utama Laporan:
- Peluang Pasar yang Signifikan: Sektor pertanian Indonesia merupakan salah satu peluang investasi paling menarik di Asia Tenggara, dengan nilai pasar mencapai USD 43,9 miliar pada 2024 dan diproyeksikan tumbuh menjadi USD 56,3 miliar pada 2033. Sektor agritech sendiri berpotensi mencapai USD 3 miliar pada 2033, dengan pertumbuhan CAGR 15,6%.
- Nilai Terpendam dari Limbah Pangan: Terdapat sekitar USD 33 miliar per tahun nilai yang belum tergarap dari limbah pangan yang dapat dikonversi menjadi produk bernilai melalui pendekatan ekonomi sirkular.
- Sektor Prioritas Investasi: Laporan mengidentifikasi empat sektor utama yang perlu menjadi fokus: akuakultur berkelanjutan, pertanian tahan iklim (climate-resilient farming), pengolahan bernilai tambah (value-added processing), dan sistem limbah pangan & ekonomi sirkular.
- Studi Kasus Inovatif: Laporan ini menampilkan kisah sukses nyata dari para pelaku agritech Indonesia, termasuk Great Giant Foods sebagai pengolah nanas nomor satu dunia dengan pendekatan ekonomi sirkular, Eratani dengan tingkat pengembalian pinjaman 99% yang menjadikan petani kecil layak dibiayai (bankable), serta Chickin yang berhasil memantau 88 juta ekor unggas dengan teknologi yang menurunkan angka kematian hingga 50%.
- Kerangka Ketahanan 3R: Laporan memperkenalkan kerangka 3R Pathways sebagai panduan membangun sistem pangan yang tangguh meliputi Robustness (memperkuat sistem sebelum guncangan), Recovery (bangkit cepat setelah gangguan), dan Reorientation (transformasi untuk ketahanan jangka panjang).
Para stakeholder di Indonesia Food Resilience Forum 2025 sepakat bahwa peluang untuk mengakselerasi ketahanan pangan nasional masih sangat besar. Dengan kekuatan sumber daya alam, basis petani yang luas, serta tumbuhnya inovasi teknologi dan dukungan kebijakan, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk melompat ke fase baru transformasi sistem pangan. Kunci keberhasilan ke depan terletak pada kolaborasi lintas sektor yang lebih erat, agar setiap terobosan teknologi dan kebijakan dapat diterjemahkan menjadi dampak nyata di lapangan. Foundry Collective percaya bahwa melalui kemitraan yang berkelanjutan dan visi bersama, Indonesia dapat membangun ekosistem pangan yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing global bagi generasi mendatang.
Unduh laporan Food Resilience through Innovation and Technology: Pathways for a Nourished Future melalui tautan ini: https://digest.foundrycollective.id/p/food-resilience-report-2025






Leave a Reply