Startup teknologi perjalanan asal Jakarta, SPUN, mengantongi pendanaan awal (seed funding) sebesar US$1,8 juta atau sekitar Rp30,4 miliar. Pendanaan ini akan digunakan untuk memperluas jangkauan bisnis ke kawasan Asia Tenggara serta memperkuat otomatisasi dan integrasi platform.
Putaran pendanaan tersebut dipimpin oleh Genesia Ventures, dengan partisipasi dari Antler, Spiral Ventures, Iterative, Kopital Ventures, serta investor malaikat Kum Hong Siew.
Didirikan oleh Christa Sabathaly dan Dilla Anindita, SPUN berfokus pada pengembangan infrastruktur visa yang terintegrasi. Perusahaan ini memanfaatkan agen berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menyederhanakan proses pengajuan visa, baik bagi individu maupun pelaku bisnis, mencakup lebih dari 90 negara dan 300 jenis visa.
Dalam tahun pertamanya beroperasi, SPUN telah memproses ribuan pengajuan visa dengan tingkat persetujuan mencapai 99%. Layanannya digunakan oleh lebih dari 200 agen perjalanan dan mitra, serta telah terintegrasi dengan platform perjalanan seperti Klook dan Traveloka.
Pendanaan ini juga diarahkan untuk menjawab tantangan fragmentasi proses visa di Asia Tenggara. Seiring pulihnya perjalanan lintas negara, kompleksitas pengurusan visa masih menjadi hambatan utama, khususnya bagi wisatawan Indonesia yang jumlahnya mencapai lebih dari 20 juta penumpang per tahun.
Dengan ekspansi regional dan penguatan teknologi, SPUN menargetkan dapat menjadi tulang punggung infrastruktur visa di kawasan Asia Tenggara, sekaligus mendukung ekosistem perjalanan yang lebih efisien dan terintegrasi.






Leave a Reply