Industri e-commerce Indonesia diproyeksikan memasuki fase baru pada 2026, seiring dengan semakin matangnya perilaku konsumen. Tidak lagi sekadar mengejar diskon, konsumen kini lebih mengutamakan kualitas, keaslian produk, dan pengalaman berbelanja yang dapat dipercaya.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Lazada, yang menilai bahwa e-commerce telah bertransformasi dari sekadar kanal transaksi menjadi ekosistem yang menopang pertumbuhan jangka panjang konsumen dan pelaku usaha.
CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera, menyebutkan bahwa meningkatnya literasi dan perencanaan belanja membuat konsumen semakin berani membeli produk bernilai tinggi secara online. “Fokus e-commerce saat ini adalah membangun kepercayaan. Ketika konsumen yakin pada kualitas dan keaslian produk, mereka akan berbelanja dengan lebih percaya diri,” ujarnya.
Kepercayaan Jadi Penggerak Pertumbuhan
Kepercayaan kini menjadi faktor utama dalam keputusan belanja. Konsumen tidak lagi menilai produk hanya dari harga, melainkan dari daya tahan, manfaat jangka panjang, serta perlindungan yang diberikan platform. Laporan Cube Asia 2025 mencatat sekitar 80 persen konsumen Indonesia lebih memilih berbelanja di online mall karena adanya jaminan kualitas.
Pergeseran ini terlihat jelas pada keluarga muda dan konsumen aspirasional yang memanfaatkan e-commerce untuk membeli produk penunjang kualitas hidup, seperti elektronik, peralatan rumah tangga, dan produk kesehatan.
Belanja Sesuai Fase Kehidupan
Tren berikutnya adalah belanja yang semakin selaras dengan fase kehidupan. Konsumen menggunakan e-commerce untuk mendukung transisi penting, mulai dari membangun keluarga, merenovasi rumah, hingga menjalani gaya hidup lebih sehat. Hal ini mendorong pertumbuhan kategori produk life-upgrade, termasuk furnitur, otomotif, dan kesehatan.
Brand lokal maupun global dinilai berperan penting dalam menyediakan pilihan produk di berbagai rentang harga, sehingga konsumen dapat meningkatkan kualitas produk secara bertahap dan terencana.
Premiumisasi Berbasis Nilai
Minat terhadap produk premium juga meningkat, namun tetap berlandaskan prinsip value-for-money. Konsumen kini memandang pembelian produk berkualitas sebagai bentuk investasi, terutama pada kategori yang berdampak langsung pada pengalaman penggunaan, seperti kecantikan dan elektronik.
Berbagai fitur pendukung, seperti voucher, cicilan, dan program loyalitas, memungkinkan konsumen mengakses produk kelas atas dengan harga yang tetap rasional. Kombinasi antara aspirasi dan efisiensi ini membentuk definisi baru keterjangkauan di e-commerce.
Peran Membership dan Kreator Konten
Model promosi juga mengalami perubahan. Program keanggotaan menjadi sarana utama untuk membangun loyalitas jangka panjang, menggantikan ketergantungan pada diskon sesaat. Sistem ini mendorong konsumen untuk memusatkan aktivitas belanja pada satu platform, sekaligus menciptakan permintaan yang lebih stabil bagi penjual.
Di sisi lain, kreator konten dan afiliator semakin berperan dalam memengaruhi keputusan belanja. Ulasan yang autentik dan edukatif dinilai mampu menjembatani kebutuhan informasi konsumen dengan penawaran brand, sekaligus memperkuat kepercayaan.
Menuju Babak Baru E-commerce
Dengan proyeksi nilai transaksi e-commerce Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar US$140 miliar pada 2030, industri dinilai siap memasuki babak baru. Fokus tidak lagi semata pada volume transaksi, melainkan pada dampak nyata terhadap kualitas hidup konsumen.
“Di tengah pilihan yang semakin luas, platform yang mampu membangun kepercayaan dan menghadirkan kualitas akan menjadi pemenang,” kata Carlos Barrera.





![Pemerintah Dikabarkan Siapkan Perpres Implementasi AI di Program Prioritas [Updated]](https://news.dailysocial.id/wp-content/uploads/2026/06/2135IMG-20260623-WA0030.jpg)
Leave a Reply