SBI Holdings dari Jepang dikabarkan berencana menginvestasikan US$270 juta ke Ajaib, platform investasi digital asal Indonesia, dalam transaksi yang disebut sebagai penggalangan dana teknologi terbesar di Indonesia sejak 2022. Mengutip Nikkei Asia, investasi ini memberi SBI kepemilikan 20% di Ajaib sekaligus memperkuat posisinya di pasar aset digital Indonesia yang terus berkembang.
Diperkirakan investasi ini akan menempatkan valuasi Ajaib di atas kisaran US$1 miliar yang pernah dicapai pada 2021, meski angka pastinya tidak diungkap.
Ajaib bidik penguatan bisnis, SBI incar akses ke pasar pengguna muda
Didirikan pada 2018 oleh Anderson Sumarli dan Yada Piyajomkwan, Ajaib tumbuh lewat layanan perdagangan saham yang menyasar investor ritel pemula dengan pendekatan yang sederhana dan berbasis aplikasi. Ajaib juga disebut telah memperluas layanan ke perdagangan kripto dan produk margin valas, serta mengklaim memiliki lebih dari 3 juta pengguna.
Bagi SBI, masuk ke Ajaib membuka akses ke basis pengguna muda yang sudah akrab dengan investasi digital, sekaligus ke perizinan lokal yang mencakup pialang, perbankan, dan kripto. Di sisi lain, Ajaib mendapat tambahan modal dan dukungan mitra strategis yang dinilai memiliki infrastruktur penyelesaian transaksi yang lebih kuat.
Pasar kripto Indonesia jadi daya tarik utama
Salah satu alasan utama di balik transaksi ini adalah besarnya pasar kripto Indonesia. OJK mencatat 22,7 juta investor kripto terdaftar per Juni 2026, lebih dari dua kali lipat jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia yang disebut sekitar 10 juta.
Sepanjang 2025, nilai transaksi aset digital di Indonesia mencapai Rp482 triliun. Selain itu, sejak Januari 2025 pengawasan aset kripto telah beralih dari Bappebti ke OJK, yang membuat industri ini makin dekat dengan kerangka regulasi sektor keuangan arus utama.
Diketahui juga bahwa SBI cukup agresif berinovasi di sektor aset digital. Pada Juni, SBI meluncurkan JPYSC, stablecoin yen pertama di Jepang yang diterbitkan melalui trust bank, lalu pada Juli mengakuisisi 20% saham EDX Markets di Amerika Serikat.
Menurut sumber, SBI dan Ajaib disebut berencana bekerja sama dalam sirkulasi JPYSC serta pengembangan bisnis kripto di luar pasar domestik masing-masing. Namun, peluang pemanfaatan stablecoin yen di Indonesia masih menghadapi tantangan karena hukum domestik hanya mengakui rupiah sebagai alat pembayaran di dalam negeri.
Prospek besar, tetapi risikonya tetap ada
Di tengah potensi pertumbuhan, pasar kripto Indonesia juga sedang menghadapi tekanan. Dalam semester pertama 2026, nilai transaksi kripto disebut turun 33,6% secara tahunan menjadi Rp151 triliun, meski jumlah investor tetap bertambah sekitar 2,5 juta akun dalam enam bulan.
Karena itu, investasi SBI ke Ajaib bukan hanya soal ekspansi, tetapi juga pertaruhan jangka panjang pada infrastruktur, kepatuhan, dan distribusi layanan keuangan digital. Naskah tersebut menilai arah investasi baru di sektor teknologi Indonesia kini mulai bergeser, dari strategi pertumbuhan agresif menuju model bisnis yang lebih menekankan ketahanan, regulasi, dan infrastruktur pasar.






Leave a Reply