Upaya Muluskan Rencana Merger Grab-GoTo, Skema ‘Golden Share’ Disebut Tengah Digodok

2–3 minutes
Jika terlaksana, merger Grab-GoTo akan membentuk perusahaan teknologi bernilai sekitar US$29 miliar / Gambar: Unsplash - Afif Ramdhasuma

Indonesia dikabarkan tengah membahas skema “golden share” sebagai syarat restu pemerintah terhadap rencana penggabungan bisnis (merger) dua raksasa ride-hailing Asia Tenggara, Grab dan GoTo. Opsi ini akan menawarkan porsi saham minoritas dengan hak khusus kepada Danantara di entitas hasil merger yang beroperasi di Indonesia. Kabar ini pertama diberitakan oleh Financial Times.

Menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, golden share akan memberi Danantara hak istimewa untuk ikut menentukan kebijakan strategis di unit Indonesia, termasuk isu sensitif seperti skema pendapatan dan kesejahteraan mitra pengemudi. Skema ini mencerminkan keinginan pemerintah agar tetap dekat dan punya suara dalam bisnis yang sangat bergantung pada tenaga kerja ekonomi gig.

Jika terlaksana, merger Grab-GoTo akan membentuk perusahaan teknologi bernilai sekitar US$29 miliar, dengan penguasaan sekitar 90% pasar ride-hailing dan layanan pesan-antar makanan di Indonesia. Kondisi ini praktis menjadikan entitas baru tersebut sebagai pemain dominan di ekonomi digital Indonesia, sekaligus memperkuat posisi kawasan Asia Tenggara di sektor teknologi layanan transportasi dan logistik on-demand.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya mengonfirmasi bahwa pemerintah ikut membahas rencana penggabungan Grab dan GoTo, dengan menyebut Danantara sebagai pihak yang dilibatkan dalam proses tersebut. Ia menekankan bahwa perusahaan layanan seperti Grab dan GoTo telah menjadi pencipta lapangan kerja signifikan dan penggerak ekonomi, sehingga kebijakan terhadap sektor ini tidak hanya menyentuh aspek bisnis, tetapi juga dimensi ketenagakerjaan dan stabilitas sosial.

Di sisi lain, GoTo sedang menghadapi tekanan internal dari pemegang saham besar. Sejumlah pemegang saham, termasuk SoftBank, dikabarkan mengajukan permintaan resmi kepada dewan untuk mengganti CEO Patrick Walujo pada rapat umum pemegang saham luar biasa berikutnya. Mereka menyoroti pelemahan harga saham yang cukup tajam sejak IPO. SoftBank, yang juga merupakan pemegang saham Grab, sudah lama mendorong terjadinya merger antara kedua perusahaan.

Grab dan GoTo sempat mencatatkan valuasi gabungan sekitar US$72 miliar saat melantai di bursa pada 2021-2022. Namun, sejak itu harga saham Grab anjlok lebih dari separuh, sedangkan saham GoTo terkoreksi lebih dari 80% akibat persaingan ketat di pasar Asia Tenggara dan tekanan menuju profitabilitas. Kondisi pasar yang menantang membuat konsolidasi melalui merger dipandang sejumlah pihak sebagai jalan untuk memperkuat neraca keuangan dan mengurangi perang diskon yang menggerus margin.

Secara resmi, GoTo dalam keterbukaan informasi menyatakan bahwa rapat pemegang saham pada 17 Desember mendatang “tidak terkait dengan aksi korporasi yang direncanakan”. Perusahaan juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan ataupun kesepakatan yang dicapai terkait potensi transaksi dengan Grab. Di sisi lain, GoTo menyebut dewan dan manajemen pada prinsipnya mendukung kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi dan merchant, termasuk jika harus ditempuh melalui merger, akuisisi, atau aksi korporasi strategis lainnya. Grab menolak memberikan komentar.

Bagi pemerintah Indonesia, skema golden share di entitas Grab-GoTo pascamerger berpotensi menjadi model baru pengawasan sektor digital yang sangat padat karya. Dengan hak khusus di tangan sovereign wealth fund, Jakarta memperoleh cara tambahan untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi bisnis, perlindungan konsumen, dan kepastian penghidupan jutaan pekerja ekonomi gig yang bergantung pada platform ride-hailing dan layanan antar di Indonesia.

Trending

Discover more from DailySocial.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading