PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) semakin menjauh dari era bakar uang. Perseroan membukukan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II 2026, tumbuh 47% dibanding kuartal sebelumnya dan menandai dua kuartal beruntun mencetak laba, berbalik dari rugi Rp375 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, laba periode berjalan GoTo mencapai Rp423,3 miliar sepanjang semester I 2026, berbalik dari rugi Rp742 miliar pada semester I 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan lebih tinggi, yakni Rp607,5 miliar, setara laba bersih per saham dasar Rp0,57.
Pertumbuhannya pun terakselerasi. Pendapatan bersih kuartal II 2026 naik 31% secara tahunan (YoY) menjadi Rp5,65 triliun, sementara nilai transaksi bruto (GTV) inti melonjak 83% YoY menjadi Rp164,3 triliun. Jumlah pengguna bertransaksi tahunan mencapai 71 juta, tumbuh 19% YoY atau lebih dari sepertiga populasi dewasa Indonesia.

Adjusted EBITDA tembus Rp1 triliun untuk pertama kali
Indikator profitabilitas operasional GoTo mencatatkan tonggak baru. Adjusted EBITDA Grup mencapai Rp1,01 triliun pada kuartal II 2026, melonjak 137% YoY dan menembus level Rp1 triliun untuk pertama kalinya. Pencapaian ini menuntaskan pendakian sembilan kuartal berturut-turut sejak posisi negatif Rp64 miliar pada kuartal II 2024. Secara kumulatif, adjusted EBITDA semester I 2026 mencapai Rp1,92 triliun, naik 134% YoY.
Perbaikan juga terlihat pada metrik akuntansi standar: laba usaha semester I 2026 tercatat Rp782 miliar, berbalik dari rugi usaha Rp172 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya,” ujar Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).

GoPay salip Gojek untuk pertama kalinya
Cerita paling menarik justru ada di komposisi laba. Segmen fintech yang dimotori GoPay membukukan adjusted EBITDA Rp481 miliar pada kuartal II 2026, meroket 447% YoY dari Rp88 miliar, dan untuk pertama kalinya melampaui segmen on-demand services (Gojek) yang mencetak Rp464 miliar. Hans menyebut capaian tersebut mencerminkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem GoTo.
Mesin fintech ini berputar kencang di semua metrik. Pendapatan bersihnya tumbuh 53% YoY menjadi Rp2,07 triliun, ditopang 28,8 juta pengguna bertransaksi bulanan yang naik 29% YoY serta 2,4 miliar transaksi yang melonjak 91% YoY. GTV inti segmen ini menembus Rp157,3 triliun, tumbuh 91% YoY.
Bisnis pinjaman ikut melesat. Nilai buku pinjaman (loan book) mencapai Rp11 triliun, naik 58% YoY, dengan kualitas yang relatif terjaga: rasio pinjaman lewat jatuh tempo di atas 90 hari stabil pada 0,8%, meski total tunggakan naik tipis menjadi 8,2% dari 7,3% setahun sebelumnya.

Gojek pilih margin ketimbang volume
Di bisnis on-demand, GoTo secara sadar mengerem laju volume demi profitabilitas. GTV segmen ini hanya naik 2% YoY menjadi Rp16,7 triliun, dengan jumlah pesanan selesai tumbuh 3% YoY namun naik 8% secara kuartalan. Pendapatan bersihnya tetap tumbuh 20% YoY menjadi Rp3,59 triliun, mengangkat adjusted EBITDA segmen 41% YoY menjadi Rp464 miliar.
Ekspansi margin terjadi di kedua lini. Margin mobility terhadap GTV naik menjadi 5,0% dari 3,0%, sementara delivery menjadi 2,1% dari 1,8%. Pelanggan affluent menjadi pendorong utama, tercermin dari jumlah pengguna dengan belanja sangat tinggi, di atas Rp2,5 juta per bulan, yang tumbuh 21% YoY. Di sisi lain, uji coba strategi pasar massal mulai menunjukkan hasil dengan peningkatan pooling lima kali lipat dan produktivitas mitra pengemudi naik 15%.
Adapun segmen e-commerce menyumbang pendapatan biaya jasa Rp263 miliar pada kuartal II 2026, dengan adjusted EBITDA segmen Rp224 miliar, naik dari Rp171 miliar setahun sebelumnya.
Komisi 8% membayangi paruh kedua
Momentum ini akan diuji regulasi. Mulai 1 Juli 2026, struktur komisi aplikasi maksimal 8% berlaku untuk bisnis transportasi roda dua GoRide sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Lini ini menyumbang sekitar 7% pendapatan bersih Grup, dan manajemen memperkirakan dampak bersihnya sekitar Rp300 miliar terhadap adjusted EBITDA segmen on-demand pada semester II 2026. Menurut Hans, dampaknya baru akan terlihat pada laporan kuartal III, namun setelah satu bulan berjalan kondisi bisnis tetap stabil.
Merespons hal itu, GoTo merombak komposisi pedoman kinerjanya sambil mempertahankan target adjusted EBITDA Grup setahun penuh di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Pedoman segmen fintech dinaikkan menjadi Rp1,7-1,8 triliun dari Rp1,4-1,5 triliun, sementara pedoman on-demand services diturunkan menjadi Rp1,4-1,5 triliun dari Rp1,7-1,8 triliun.
Amunisi neracanya tergolong tebal. Arus kas bebas yang disesuaikan tercatat positif Rp809 miliar pada kuartal II 2026 dan Rp2,07 triliun sepanjang semester I, berbalik dari posisi negatif setahun lalu, dengan saldo kas, setara kas, dan deposito jangka pendek Rp23,7 triliun per akhir Juni 2026. Perseroan juga mengumumkan rencana pembatalan lebih dari 32 miliar saham tresuri, setara sekitar 2,7% dari total saham beredar, yang akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB.
Bagi pasar, kuartal III akan menjadi ujian sesungguhnya bagi tesis keseimbangan ekosistem yang dibawa GoTo: apakah akselerasi laba GoPay mampu menambal tekanan komisi di bisnis transportasi. Dua kuartal laba beruntun dan arus kas yang positif setidaknya memberi GoTo bantalan yang jauh lebih kokoh untuk menghadapinya.






Leave a Reply