Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam adopsi kecerdasan buatan generatif (GenAI), tetapi partisipasi perempuan dalam bidang ini masih tertinggal. Data terbaru dari Coursera menunjukkan bahwa meskipun perempuan mencakup 49% dari total pembelajar di Indonesia, hanya 30% dari mereka yang mendaftar dalam kursus GenAI. Angka ini sejalan dengan tren global di mana keterwakilan perempuan dalam GenAI masih rendah, yakni hanya 32% dari total pendaftaran.
Menurut laporan Coursera, terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan rendahnya keterlibatan perempuan dalam AI:
- Kurangnya Kepercayaan Diri
Perempuan cenderung memilih kursus tingkat pemula dibanding tingkat menengah atau lanjutan, meskipun memiliki keterampilan yang cukup. Di Indonesia, kursus GenAI yang paling populer di kalangan perempuan adalah kursus pengantar. - Keterbatasan Waktu dan Kurangnya Panduan
Banyak perempuan menghentikan kursus STEM karena keterbatasan waktu, yang sering kali terkait dengan tanggung jawab domestik dan pekerjaan. Selain itu, hanya 51% perempuan di Indonesia yang terpapar teknologi sebelum memasuki universitas, menandakan perlunya akses lebih awal terhadap pendidikan STEM. - Kurangnya Pemahaman tentang Relevansi GenAI
Banyak perempuan ragu untuk meningkatkan keterampilan GenAI karena kurangnya pemahaman tentang aplikasinya di dunia nyata. Namun, mereka lebih tertarik ketika AI dikaitkan dengan bidang seperti kesehatan, pendidikan, dan industri kreatif. - Minimnya Panutan Perempuan di AI
Kurangnya representasi perempuan dalam kepemimpinan AI menghambat keterlibatan mereka dalam industri ini. Studi menunjukkan bahwa keberadaan instruktur perempuan dalam kursus STEM dapat meningkatkan pendaftaran perempuan hingga 7%.
Meskipun menghadapi berbagai hambatan, minat perempuan Indonesia terhadap GenAI menunjukkan peningkatan yang menjanjikan. Pada tahun 2024, jumlah pendaftaran perempuan dalam kursus GenAI di Coursera melonjak 536%, melampaui tingkat pertumbuhan laki-laki yang hanya 383%.
“Indonesia menunjukkan antusiasme luar biasa dalam memahami dan memanfaatkan teknologi GenAI. Namun, untuk memperkuat daya saing global dan pengembangan tenaga kerja, penting untuk memastikan bahwa peluang ini dapat diakses secara merata,” ujar Karine Allouche, Global Head of Enterprise di Coursera.
–
Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan teknologi AI dan supervisi penulis konten






Leave a Reply