LIQUID8, startup recommerce yang berfokus pada pengelolaan barang overstock dan produk gagal kirim, baru saja memperoleh pendanaan awal dari SPIL Ventures. Dengan dukungan ini, LIQUID8 siap memperluas layanannya dalam membantu pelaku UMKM mendapatkan akses ke barang berkualitas dengan harga lebih terjangkau, sekaligus mendorong ekonomi sirkular di Indonesia.
LIQUID8 dan Model Bisnis Recomerce di Indonesia
Industri e-commerce di Indonesia terus berkembang pesat, tetapi tantangan dalam mengelola barang overstock dan produk gagal kirim semakin meningkat. LIQUID8 hadir sebagai solusi inovatif untuk mengatasi masalah ini dengan pendekatan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan mendukung ekonomi berkelanjutan.
Saat ini, pengguna utama LIQUID8 adalah perusahaan yang ingin melakukan likuidasi inventaris secara efisien dan ramah lingkungan. Startup ini bekerja sama dengan mayoritas perusahaan logistik, e-commerce platform, dan retailer langsung. Dari sisi pertumbuhan, jumlah pengguna organik LIQUID8 telah meningkat tiga kali lipat dalam satu tahun terakhir, menunjukkan tingginya permintaan akan solusi recommerce di Indonesia.
Menurut Co-Founder & CEO LIQUID8 Mike Roosevelt, model bisnis recommerce ini memiliki product-market fit yang kuat di Indonesia karena beberapa faktor utama:
- Tingkat gagal kirim (failed delivery) yang tinggi – Lebih dari 20% pesanan online di Indonesia mengalami gagal kirim, terutama karena metode pembayaran Cash on Delivery (COD).
- Overstock inventory yang terus meningkat – Setiap kampanye diskon besar seperti 11.11 dan 12.12 menghasilkan surplus stok yang signifikan dari e-commerce dan retailer.
- Tren ekonomi sirkular dan ESG – Semakin banyak perusahaan yang mencari solusi berkelanjutan untuk mengurangi limbah dan menerapkan prinsip zero waste, sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap lingkungan.
- Pertumbuhan UMKM dan reseller – Makin banyak UMKM yang mencari sumber barang berkualitas dengan harga lebih terjangkau, sehingga recommerce menjadi solusi yang relevan bagi pasar Indonesia.
“Indonesia memiliki pangsa pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara, namun juga menghadapi tantangan besar terkait overstock dan pengembalian barang. Dengan solusi recommerce yang kami tawarkan, kami tidak hanya mengatasi masalah logistik dan surplus barang, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan dan ekonomi sirkular yang semakin relevan bagi perusahaan dan masyarakat,” jelas Mike Roosevelt.
Pendanaan dan Rencana Ekspansi di 2025
Dukungan dari SPIL Ventures akan membantu LIQUID8 untuk meningkatkan skala bisnisnya. Sumarny Manurung, VP Investment SPIL Ventures, menyatakan keyakinannya terhadap potensi startup ini.
“Kami melihat potensi besar pada LIQUID8 untuk memimpin sektor recommerce di Asia Tenggara. Solusi mereka tidak hanya membantu mengelola barang overstock, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi lokal dengan mendukung UMKM. Kami percaya bahwa inovasi ini akan memberikan manfaat besar dalam jangka panjang,” ungkap Sumarny.
Pada tahun 2025, LIQUID8 akan fokus pada tiga langkah strategis, meliputi:
- Ekspansi pasar di Indonesia untuk meningkatkan adopsi recommerce di kalangan perusahaan dan UMKM.
- Perekrutan talenta baru untuk memperkuat tim dan operasional.
- Pengembangan teknologi dan operasional guna meningkatkan efisiensi platform dan layanan recommerce.
Dalam waktu dekat, LIQUID8juga akan meluncurkan platform bernama Bulky, untuk memudahkan proses transaksi kepada para UMKM dan reseller.
–
Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan teknologi AI dan supervisi penulis konten






Leave a Reply