PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) semakin dekat dengan realisasi merger bersama PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smart Telecom (SmartTel). Sebagai langkah final, Smartfren akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 Maret 2025 untuk mendapatkan persetujuan resmi dari pemegang saham.
Langkah merger ini menjadi bagian dari strategi bisnis untuk memperkuat daya saing di industri telekomunikasi Indonesia. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan telah mendapatkan sebagian besar persetujuan dari kreditur terkait pengesampingan negative covenants. EXCL sendiri masih menunggu keputusan final dari dua krediturnya yang hingga kini memberikan persetujuan secara kondisional.
Persiapan dan Tantangan dalam Proses Merger
Salah satu aspek krusial dalam merger ini adalah kesiapan dana untuk pembelian kembali saham dari pemegang saham yang tidak menyetujui aksi korporasi ini. Saat ini, EXCL masih berupaya memenuhi persyaratan kecukupan dana untuk melakukan buyback saham milik beberapa entitas, termasuk Axiata Investments (Indonesia) Sdn. Bhd., PT Wahana Inti Nusantara, PT Global Nusa Data, PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), dan PT Gerbangmas Tunggal Sejahtera.
Selain itu, merger ini juga masih menunggu persetujuan dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) terkait perubahan struktur kepemilikan saham EXCL serta proses pengalihan Izin Pita Frekuensi Radio (IPFR) dari Smart Telecom ke EXCL.
Di sisi lain, Axiata Investments juga telah menyepakati rencana pengalihan 13,14% sahamnya kepada PT Bali Media Telekomunikasi (BMT). Transaksi yang bernilai US$475 juta ini akan dilakukan melalui mekanisme negosiasi di Bursa Efek Indonesia, dengan harga per saham ditetapkan sebesar Rp3.189.
Kondisi Keuangan Smartfren Sebelum Merger
Sementara merger ini berlangsung, laporan keuangan Smartfren menunjukkan tantangan tersendiri. Sepanjang tahun 2024, perusahaan mencatat kerugian sebesar Rp1,29 triliun, melonjak dari tahun sebelumnya yang hanya Rp108,92 miliar. Beban usaha meningkat dari Rp11,11 triliun pada 2023 menjadi Rp11,72 triliun di 2024, dengan komponen terbesar berasal dari biaya penyusutan, jasa telekomunikasi, pemasaran, serta beban bunga yang naik menjadi Rp1,31 triliun.
Pendapatan Smartfren pada 2024 tercatat Rp11,41 triliun, sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp11,65 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya pendapatan dari layanan data, yang turun dari Rp10,18 triliun menjadi Rp9,9 triliun. Namun, pendapatan dari layanan non-data mengalami kenaikan dari Rp291 miliar menjadi Rp429 miliar.
Optimisme Pasca-Merger
Manajemen Smartfren dan XL Axiata menekankan bahwa aksi korporasi ini bertujuan untuk menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham dan meningkatkan daya saing di industri telekomunikasi. Dengan kombinasi sumber daya kedua perusahaan, merger ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan infrastruktur jaringan dan layanan pelanggan yang lebih optimal.
Meskipun masih terdapat beberapa tantangan, termasuk keberatan dari kreditur tertentu, manajemen XL Axiata memastikan bahwa koordinasi terus dilakukan untuk menyelesaikan kendala sebelum RUPSLB berlangsung. “Agar keberatan dapat segera diselesaikan sebelum RUPS untuk menyetujui penggabungan agar tidak memberikan dampak terhadap pelaksanaan proses penggabungan usaha,” jelas manajemen XL Axiata.
Dengan nilai transaksi mencapai Rp104 triliun (sekitar US$6,5 miliar), merger ini berpotensi menjadi salah satu aksi korporasi terbesar di sektor telekomunikasi Indonesia. Keputusan akhir akan ditentukan dalam RUPSLB.
–
Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan teknologi AI dan supervisi penulis konten




